0


Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥
Tak mudah menjadi lelaki sejantan Salman. Tak mudah menjadi sahabat setulus Abud Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita sejujur shahabiyah yang kelak kita kenal sebagai Ummud Darda’. Belajar menjadi mereka adalah proses belajar untuk menjadi orang yang benar dalam menata dan mengelola hati. Lalu merekapun bercahaya dalam pentas sejarah. Bagaimanakah kiranya?
Ijinkan saya mengenang seorang ulama yang berhasil mengintisarikan Ihya’ ‘Ulumiddin karya Imam Al Ghazali. Ustadz Sa’id Hawa namanya. Dalam buku Tazkiyatun Nafs, beliau menggambarkan pada kita proses untuk menjadi orang yang shadiq, orang yang benar. Prosesnya ada empat, ialah sebagai berikut,

Shidqun Niyah
Artinya benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.
Shidqul ‘Azm
Artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa.
Shidqul Iltizam
Artinya benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqamahkan dzikir, fikir, dan ikhtiyar.
Shidqul ‘Amaal
Artinya benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.
Nah, mari coba kita refleksikan proses menjadi orang benar ini dalam proses menuju pernikahan. Seperti Salman. Ia kuat memelihara aturan-aturan syar’i. Dan mengharukan caranya mengelola hasrat hati. Insyaallah dengan demikian keberkahan itu semakin mendekat. Jikalau Ash Shidq berarti kebenaran dan bermakna kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.
♥♥♥
Apa kiat sederhana untuk menjaga hati menyambut sang kawan sejati? Dari pengalaman, ini jawabnya: memfokuskan diri pada persiapan. Mereka yang berbakat gagal dalam pernikahan biasanya adalah mereka yang berfokus pada “Who”. Dengan siapa. Mereka yang insyaallah bisa melalui kehidupan pernikahan yang penuh tantangan adalah mereka yang berfokus pada “Why” dan “How”. Mengapa dia menikah, dan bagaimana dia meraihnya dalam kerangka ridha Allah.
Maka jika kau ingin tahu, inilah persiapan-persiapan itu:
Persiapan Ruhiyah (Spiritual)
Ini meliputi kesiapan kita untuk mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggung jawab, sedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada. Ada penekanan juga untuk siap menggunakan dua hal dalam hidup yang nyata, yakni sabar dan syukur. Ada kesiapan untuk tunduk dan menerima segala ketentuan Allah yang mengatur hidup kita seutuhnya, lebih-lebih dalam rumahtangga.
Persiapan ‘Ilmiyah-Fikriyah (Ilmu-Intelektual)
Bersiaplah menata rumahtangga dengan pengetahuan, ilmu, dan pemahaman. Ada ilmu tentang Ad Diin. Ada ilmu tentang berkomunikasi yang ma’ruf kepada pasangan. Ada ilmu untuk menjadi orangtua yang baik (parenting). Ada ilmu tentang penataan ekonomi. Dan banyak ilmu yang lain.
Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Jika memiliki penyakit-penyakit, apalagi berkait dengan kesehatan reproduksi, harus segera diikhtiyarkan penyembuhannya. Keputihan pada akhwat misalnya. Atau gondongan (parotitis) bagi ikhwan. Karena virus yang menyerang kelenjar parotid ini, jika tak segera diblok, bisa menyerang testis. Panu juga harus disembuhkan, he he. Perhatikan kebersihan. Yang lain, perhatikan makanan. Pokoknya harus halal, thayyib, dan teratur. Hapus kebiasaan jajan sembarangan. Tentang pakaian juga, apalagi pada bagian yang paling pribadi. Kebiasaan memakai dalaman yang terlalu ketat misalnya, berefek sangat buruk bagi kualitas sperma. Nah.
Persiapan Maaliyah (Material)
Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami. Persiapan finansial #Nikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus kita punya. Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas menghasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan mengelola sejumlah apapun ia.
Maka memulai per nikahan, BUKAN soal apa kita sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi. Adalah ‘Ali ibn Abi Thalib memulai pernikahannya bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dan lain-lain dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.
Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: pernikahan itu jalan Allah membuka kekayaan (QS 24: 32). Buatlah proyeksi nafkah rumahtangga secara ilmiah & executable. JANGAN masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutanNya.
Kemapanan itu tidak abadi. Saat belum mapan masing-masing pasangan bisa belajar untuk menghadapi lapang maupun sempitnya kehidupan. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite, signifikan memperkuat ikatan cinta. Ketidakmapanan yang dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung dan meningkatkan angka harapan hidup.

Persiapan Ijtima’iyyah (Sosial)
Artinya, siap untuk bermasyarakat, faham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat. Juga tak kalah penting, memiliki visi dan misi da’wah di lingkungannya.

Nah, ini semua adalah persiapan. Artinya sesuatu yang kita kerjakan dalam proses yang tak berhenti. Seberapa banyak dari persiapan di atas yang harus dicapai sebelum menikah? Ukurannya menjadi sangat relatif. Karena, bahkan proses persiapan hakikatnya adalah juga proses perbaikan diri yang kita lakukan sepanjang waktu. Setelah menikah pun, kita tetap harus terus mengasah apa-apa yang kita sebut sebagai persiapan menikah itu. Lalu, kapan kita menikah?

Ya. Memang harus ada parameter yang jelas. Apa? Rasulullah ternyata hanya menyebut satu parameter di dalam hadits berikut ini. Satu saja. Coba perhatikan.

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bermampu BA’AH, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Hanya ada satu parameter saja. Apa itu? Ya, ba’ah. Apa itu ba’ah? Sebagian ‘ulama berbeda pendapat tetapi menyepakati satu hal. Makna ba’ah yang utama adalah kemampuan biologis, kemampuan berjima’. Adapun makna tambahannya, menurut Imam Asy Syaukani adalah al mahru wan nafaqah, mahar dan nafkah. Sedang menurut ‘ulama lain adalh penyediaan tempat tinggal. Tetapi, makna utamalah yang ditekankan yakni kemampuan jima’.

Maka, kita dapati generasi awal ummat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda. Bahkan sejak mengalami ihtilam (mimpi basah) pertama kali. Sehingga, kata Ustadz Darlis Fajar, di masa Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, tidak ada kenakalan remaja. Lihatlah sekarang, kata beliau, ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh menyejarah menikah di usia belasan. Yusuf Al Qaradlawi menikah di usia belasan, ‘Ali Ath Thanthawi juga begitu. Beliau lalu mengutip hasil sebuah riset baru di Timur Tengah, bahwa penyebab banyaknya kerusakan moral di tengah masyarakat adalah banyaknya bujangan dan lajang di tengah masyarakat itu.

Nah. Selesai sudah. Seberapa pun persiapan, sesedikit apapun bekal, anda sudah dituntut menikah kalau sudah ba’ah. Maka persiapan utama adalah komitmen. Komitmen untuk menjadikan pernikahan sebagai perbaikan diri terus menerus. Saya ingin menegaskan, sesudah kebenaran dan kejujuran, gejala awal dari barakah adalah mempermudah proses dan tidak mempersulit diri, apalagi mempersulit orang lain. Sudah berani melangkah sekarang? Apakah anda masih perlu sebuah jaminan lagi? Baik, Allah akan memberikannya, Allah akan menggaransinya:

“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari ma’shiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.” (HR At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Pernah di sebuha milis, saya juga menyentil sebuah logika kecil yang pernah disampaikan seorang kawan lalu saya modifikasi sedikit. Apa itu? Tentang bahwa menikah itu membuka pintu rizqi. Jadi logikanya begini. Jatah rizqi kita itu sudah ada, sudah pasti sekian-sekian. Kita diberi pilihan-pilihan oleh Allah untuk mengambilnya dari jalan manapun. Tetapi, ia bisa terhalang oleh beberapa hal semisal malas, gengsi, dan ma’shiat.

Kata ‘Umar ibn Al Khaththab, pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu kemungkinannya dua. Kalau tidak banyak ma’shiatnya, pasti diragukan kejantanannya. Nah, kebanyakan insyaallah jantan. Cuma ada ma’shiat. Ini saja sudah menghalangi rizqi. Belum lagi gengsi dan pilih-pilih pekerjaan yang kita alami sebelum menikah. Malu, gengsi, pilih-pilih.

Tapi begitu menikah, anda mendapat tuntutan tanggungjawab untuk menafkahi. Bagi yang berakal sehat, tanggungjawab ini akan menghapus gengsi dan pilih-pilih itu. Ada kenekatan yang bertanggungjwab ditambah berkurangnya ma’shiat karena di sisi sudah ada isteri yang Allah halalkan. Apalagi, kalau memperbanyak istighfar. Rizqi akan datang bertubi-tubi. Seperti kata Nabi Nuh ini,

“Maka aku katakan kepada mereka: “Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh 10-12)

Pernah membayangkan punya perkebunan yang dialiri sungai-sungai pribadi? Banyaklah beristighfar, dan segeralah menikah, insyaallah barakah. Nah, saya sudah menyampaikan. Sekali lagi, gejala awal dari barakahnya sebuah pernikahan adalah kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syaria’t, dan memudahkan diri. Ingat kata kuncinya; jujur, syar’i, mudah. Saya sudah menyampaikan, Allaahummasyhad! Ya Allah saksikanlah! Jika masih ada ragu menyisa, pertanyaan Nabi Nuh di ayat selanjutnya amat relevan ditelunjukkan ke arah wajah kita.

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (Nuh 13)
Begitulah. Selamat menyambut kawan sejati, sepenuh cinta.

Judul asli Menjaga, Menata, lalu Bercahaya
Oleh : Salim A fillah I http://salimafillah.com/menjaga-menata-lalu-bercahaya/

Dikirim pada 12 Januari 2013 di Akhlak


Puasa Arafah adalah puasa yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa Arafah dinamakan demikian karena saat itu jamaah haji sedang wukuf di terik matahari di padang Arafah. Puasa Arafah ini dianjurkan bagi mereka yang tidak berhaji. Sedangkan yang berhaji tidak disyariatkan puasa ini.

Mengenai hari Arofah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hari Arofah adalah hari pembebasan dari api neraka. Pada hari itu, Allah akan membebaskan siapa saja yang sedang wukuf di Arofah dan penduduk negeri kaum muslimin yang tidak melaksanakan wukuf. Oleh karena itu, hari setelah hari Arofah –yaitu hari Idul Adha- adalah hari ‘ied bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Baik yang melaksanakan haji dan yang tidak melaksanakannya sama-sama akan mendapatkan pembebasan dari api neraka dan ampunan pada hari Arofah.” (Lathoif Al Ma’arif, 482)

Mengenai keutamaan puasa Arafah disebutkan dalam hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

Ini menunjukkan bahwa puasa Arafah adalah di antara jalan untuk mendapatkan pengampunan di hari Arafah. Hanya sehari puasa, bisa mendapatkan pengampunan dosa untuk dua tahun. Luar biasa fadhilahnya ...
Hari Arafah pun merupakan waktu mustajabnya do’a sebagaimana disebutkan dalam hadits,
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu)”.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Insya Allah hari Arafah di tahun ini akan jatuh pada tanggal Kamis 25 Oktober 2012. Semoga kita termasuk orang yang dimudahkan oleh Allah untuk melakukan puasa tersebut dan meraih keutamaan di dalamnya. Aamiin

Sumber : http://nabungamalsholeh.blogspot.com/2012/10/tentang-puasa-arafah.html

Dikirim pada 18 Oktober 2012 di Akhlak



1.Sasana Pakarti

Jl. Duren 3 No. 12 Ps. Minggu
Telp: (021) 797 4075 Ibu Emon/Ibu Karno

* Ruang AC + Ruang Rias 3 dgn AC
* Kapasitas 1000-1200 orang
* Meja penerima tamu + 8 kursi incl
* Incl Ijin/car call/karpet jln/sound/mike 4/200 kursi lipat
* parkir luas
* Max pemakaian = 4 jam

2.Graha SUCOFINDO, 1st Floor

Kapasitas: 1200 org
Catering: 40rb-43rb-47rb per porsi
Office hours: jam 8-5 sore senen-jumat
Jl. Raya Pasar MInggu Kav. 34, Jakarta 12780,
INDONESIA, PO BOX 3277 Jakarta 10001
Phone : (62-21) 798 6657 - 58 (Direct),
(62-21) 798 3666 ext 1116, 1124
Fax : (62-21) 798 6473, 798 3888
email : customer.service@sucofindo.co.id

3.Menara Jamsostek

Jl. Jend Gatot Subroto lt. 10 (outdoor)
Jakarta Selatan

4.Aula Pangeran Kuningan

Gd. Grha Citra caraka / TELKOM, Jl. Gatot Subroto No. 52 Jakarta 12930
Telp: 021-5204729
Faks: 021-5204729
Auditorium Telkom 521 5300

5.Aula Masjid Baiturrahman

Komp. MPR/DPR RI Jakarta
Telp: 021-571.5879

6.Gedung Manggala Wanabakti Lt.2,
Jl. Jend. Gatot Subroto Senayan, Jakarta Pusat
Telepon: (langsung) 573 2707, (operator) 570 3265 s/d 570 3246 pesawat 5190 s/d 5194.
021 570 1147 (http://manggala.or.id/
Office hours: 9.00 - 16.00

7.BPK
Gatsu kav. 31
5704395

8.Departemen Perindustrian
525.5509 ex 2231/5103
Jalan Gatot Subroto Kav. 52-53, Jakarta 12950
Tel (021)5252194, 5271380, 5271387-88
Fax (021)5261086
CP: mbak Imel di 5255509 ext. 5081/2231(?).
Kapasitas 600 org

9.Birawa Assembly Hall
Gatot Subroto Kav. 71-73, Pancoran Jakarta 12870
Telp: 021-83793555
Faks: 021-83793554
Paket hotel 72-80rb/pax

10.FINANCIAL CLUB JAKARTA
Graha Niaga, 27th & 28th Floor
Jendral Sudirman Kav. 58
Jakarta 12190, Indonesia
Telp : + 62 21 2505090
Fax : + 62 21 2505091

11.Jakarta International Club
Telp : 5746608
CP : Ibu Uli
Tidak ada biaya gedung,
lokasi di Wisma 46 Lantai 46 (Lotus/Azalea/Lavender Room)
Kapasitas: Kafe 300-400 standing, Lt. 1 700-800 standing
Catering/pax: 108800++
Include: free flow softdrink, ice carving, red carpet, president room dari jam 7 s/d selesai
Stall 15rb-22rb++ (Tax 21%)


12.Wisma Indocement
Auditorium II Lt. 3,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 70-71
Jakarta Selatan
Telp: 021-5705863
Faks: 021-65311235


13.BPPT
(seberang Pan Pacific, setelah menara Thamrin sebelum DepAg)
Kapasitas 1500, Jl. M.H. Thamrin No.8
Jakarta 10340
Phone : (021) 316 8449 Fax : (021) 314 0190

Lemhanas -> Panca Gatra?
Lokasi : diantara 2 sisi jalan yaitu akses masuk melalui medan merdeka selatan (sederetan kedubes amerika / kantor walikota) & kebun sirih (seberang penang bistro, sebelah gedung dewan pers).
Telp nya : 3832471,3509095.
Buka hanya hari Senin, Rabu, Jumat
Jam 10.00-14.00 siang.


14.Wisma Antara/Auditorium Adhiyana Lt. 2
charge catering 15% sound system 500rb dekorasi 250rb listrik 250rb
kapasitas 800 full carpet
Jl. Medan Merdeka Selatan 17
Jakarta Pusat
Mbak Hesti
Phone : (021) 350 7103 Ext. 204
Fax : (021) 350 6615 9.00-6.30

15.Gedung BDN -> Bank Syariah Mandiri
Jl. MH. Thamrin No. 5
Jakarta Pusat
Jakarta
Telp: 021-39833119, 021-2300800 ext. 0560
Faks: 021-39833119


16.Pendopo Sapta Taruna Departemen Pekerjaan Umum
Jl.Patimura/20, Kebayoran Baru, JakSel
Gedung PU Belakang Al-Azhar
Kapasitas: 800 org
Bpk. Eno (08129722446 / 7394186 /7250311 /7395588)


17.DepKes
Kapasitas: 800 org
Jl. Rasuna Said, Kav. X-5, No. 4-9, Kuningan - Jakarta (setelah Kadin/Indorama)
CP: Ibu Mumun / Pak Made : 021 - 5201590 / 5253558


18.Granadi
Fasilitas: kursi 100 buah, listrik 10000 watt, izin, ruang rias dll
Jl. HR Rasuna Said Blok X-1 Kav 8-9
Jakarta Selatan
setelah great river, seberang depkes
Phone : (021) 2522 745 Ext 1059


19.Auditorium Langen Palikrama
Pegadaian Pusat
Jl Salemba Raya no 62
Telp :0213925958 atau 0213148486
31555550

20.Gedung Depsos Salemba
Jl. Salemba Raya no. 28
Telp. 3103806

21.Gedung Aneka Tambang
021 7891234

22.Patra Jasa
Gatot Subroto 021 521 7217/ 5251604

23.WTC
Jl. Jend. Sudirman 2522135
Sewa :


24.Dharma Wanita Persatuan Pusat

Kapasitas : 1200 orang
catering: 40rb/45rb/50rb - min. 800porsi
Jl. Pedurenan Masjid Karet Kuningan
(Belakang Gedung Sentra Mulia)
Jakarta Selatan
Telpon : 021-5201714/6/18
Email : info@dwp.or.id
Office hrs: 8.00-16.00 Senin Rabu Kamis

25.Barawidya Sasana/PTIK
Kebayoran Baru 7398285
kapasitas 1000-2000


26.Deptan, Ragunan
7806131/6134/4116 ext. 2123
Pak Sulis 081519918577
(full s/d 2009)

27.Gedung Arcadia Nestle
Jl. TB Simatupang Kav 88 Jakarta Selatan
Telf : 021 7883 8722
Fax : 021 78838717
Kapasitas :Reception Hall & Poolside area 800 - 1000 orang resepsi berdiri (outdoor)


28.Klub Persada - Halim

fee dekor rekanan 1,5jt, non rekanan 3jt
fee katering rekanan 30%, non rekanan 40%
fee foto rekanan 750, non rekanan 1,5jt
fee listrik 500rb

29.Gedung Arsip Nasional RI (outdoor)
Jl. Gajah Mada Jakarta
Telp: 021-6347744
Faks: 021-63 855364

30.Graha Dwi Warna
Jl. Kebon Sirih Raya
Jakarta 11480
Phone : (021) 53671994

31.Al-Azhar, Masjid 7245682
32.Al-Bina, Masjid 5734070 Ext 514
33.Al-Ihsan, Masjid Kebayoran 7244630/7243128
34.Angkasa Pura – kemayoran 6541961/6541668
35.Anjungan Jawa Tengah,TMII 8400220 / 8415991
36.Anjungan DIY,TMII 87792040 /8409348
37.Ardyaloka, HALIM 8098602
38.Arsip nasional 6347744
39.At-Taqwa, Masjid Kebayoran 7208815/7207247
40.At-Taqwa, Masjid Kemanggisan 5328243/5493424

41.At-Taqwa, Masjid Ps.Minggu 7987280
42.At-Tiin (TMII), Masjid 87795564/87794272
43.Baiturrahman, Masjid 5715879
44.Baitussalam-PLN, Masjid 7973774 ext. 1126
45.Baitut Tholibin, Masjid 5741521
46.Balai Samudra 45851721-24-25
47.Balai Sudirman 83791623-30
48.Bapindo Plaza 5266625/5266017
49.BEA CUKAI, Rawamangun 4890308 ext. 156
50.Bhayangkari 7260067/7217178

51.Bidakara(Binakarna,Birawa,Garden)83793555/83793529
52.Bimasakti 7900487
53.BKKBN-HALIM 8009045
54.BPK 5704395 Etx.121
55.BPPT 3168343-44/3162048
56.Caraloka 7222226
57.Cawang kencana 8011346-49
58.Darussalam, Masjid Cipinang 4715254
59.DepDagRi 7983769
60.Dep-Kes 5253558

61.Dept Perindustrian 5255509 ext. 5081
62.DepSos / Aneka bakti 3103806/3103591
63.DepNaKer 5255733/5251036
64.Dharma Wanita Pusat,Kuningan 5201714-18
65.DPR Kalibata 7989863-64
66.Gedung PELNI 3448227/3844395
67.Gedung Wisma Antara 3507103-04
68.Graha garini, Halim 8019823
69.Graha Jala Bakti 7699548/7692676
70.Graha Pondok Pinang 7652611

71.Graha Purna Wira 7207940
72.Granadha / Balai Sarbini 5251526/5203313
73.Granadi 2522745 Ext.1046
74.Griya Ardya Garini,Halim 8097602/8019248
75.Griya Taman Palem 7940639
76.Hermina 7982960
77.IBI (LPPI) 71792021 ext. 275
78.Istana Kana 332224/334443
79.Karsa Pemuda 5720845
80.KejaGung 7203061-65

81.Kiani Murni-Kalimanis 7985969-79
82.Klub Persada HALIM 8009118
83.Korpatarin 4898130
84.K-winanku 70009772
85.Makarti Muktitama 7993376
86.Manggala Wana Bhakti 5701147 ext. 5528
87.Menara BTN 6346880-81
88.Ni’Matul Ittihad, Masjid 7651253
89.Nyi Ageng Serang 5263219/5736544
90.Oktroi Plaza, Kemang 7197710/7196420

91.Pandan Sari, Cibubur 8731859
92.Parpostel 3522915-16
93.Patra Jasa 5217222
94.Pegadaian 3155550 ext. 146
95.Pertamina CemPut 4247322
96.Pertamina SIMPRUK 7250500/7210500
97.Pesona Khayangan 77820333/77820552
98.Pewayangan 87796316-18
99.PLN-Ragunan 7811292
100.PNSPI,TMII 8416011 etx.192-390

101.Pondok indah, Mesjid 7666165/7652974
102.PTIK 7208239/7398285
103.Puri Ardya Garini, HALIM 8006322
104.Pusdiklat BRI 78830368 ext.2121
105.Rumah Alexandra 717942629
106.Rumah Saya 7976683 107.Sasana Pakarti 7974075/7974828
108.Sasono Langen Budoyo 8409214/8409265
109.Serba Guna BULOG 5252209 Ext. 2610
110.STEKPI 7981353-55

111.SUCOFINDO 7994668 ext.244
112.Sunda Kelapa, Mesjid 3148541/334261
113.Teater Tanah Airku, TMII 87793369
114.Telokm / Citra Caraloka 5205300/5215285
115.TIFA (KOMDAK) 5234236
116.Wanita BKOW 8652874-76
117.Wisma HC-Ragunan 78843415
Sumber : Nabung Amal Sholeh
http://nabungamalsholeh.blogspot.com/2012/10/117-gedung-pernikahan-wedding.html

Dikirim pada 09 Oktober 2012 di Akhlak
03 Okt


Yang dimaksud dengan sekufu adalah kesetaraan. Artinya ada kesetaraan dan kesamaan antara calon suami dengan calon istri dalam hal-hal tertentu. Misalnya sekufu dalam hal harta artinya kekayaan calon suami itu kurang lebih setara dengan kekayaan istri.
Kesetaraan yang disepakati ulama bahkan menyebabkan pernikahan tidak sah jika kesetaraan ini tidak diperhatikan adalah kesetaraan dalam agama. Setara dalam agama artinya agama calon suami dan istri itu sama. Seorang muslimah hanya setara dengan seorang muslim. Para ulama sepakat bahwa seorang wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki kafir (Tanya Jawab Masalah Nikah dari A sampai Z hal 150, terbitan Media Hidayah).
Sedangkan kesetaraan dalam masalah yang lainnya diperselisihkan oleh para ulama, apakah perlu diperhatikan ataukah tidak.
Pernikahan yang tidak dilandasi oleh kesetaraan (selain sekufu dalam agama dan menjaga kehormatan) itu tidaklah haram. Setelah Allah menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi, Allah berfirman,
وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ
“Dan dihalalkan bagi kamu perempuan selain itu (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina …” (QS An Nisa:24).
Dampak negatif pernikahan yang tidak dilandasi kesetaraan adalah timbulnya dampak bagi pihak perempuan dan walinya. Kalau seandainya pihak perempuan dan walinya ridha dengan aib yang ditanggungnya maka akad nikah sah. Demikianlah pendapat ulama yang beranggapan bahwa sekufu dalam selain masalah agama adalah masalah yang urgen. (Tanya Jawab Masalah Nikah dari A dari Z hal 167).
Dalil ulama yang berpendapat adanya sekufu dalam masalah harta adalah sebagai berikut:
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ انْكِحِى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ ».فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ « انْكِحِى أُسَامَةَ ». فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا وَاغْتَبَطْتُ بِهِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah binti Qais tentang dua orang yang telah melamarnya,
“Abu Jahm adalah orang yang suka memukul istrinya. Sedangkan Muawiyah adalah orang yang tidak berharta. Menikahlah dengan Usamah”. Sebenarnya aku tidak suka dengan Usamah namun sekali lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menikahlah dengan Usamah”. Ahirnya aku menikah dengannya. Dengan sebab tersebut Allah memberikan kebaikan yang banyak sehingga aku merasa beruntung (HR Muslim no 3770 dari Fathimah binti Qois).
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أَحْسَابَ أَهْلِ الدُّنْيَا هَذَا الْمَالُ ».
Dari Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kemulian orang yang hidup di dunia adalah dengan harta” (HR Ahmad no 23109, sanadnya kuat menurut Syeikh Syuaib Al Arnauth).
Di antara dalil yang digunakan oleh para ulama yang berpendapat bahwa sekufu dalam harta itu tidak teranggap adalah hadits dalam Shahih Bukhari. Dalam riwayat tersebut disebukan bahwa Zainab, isteri Abdullah bin Mas’ud meminta izin kepada Rasulullah untuk memberikan sedekah kepada suaminya. Kejadian ini menunjukan bahwa Zainab itu jauh lebih kaya dibandingkan Ibnu Mas’ud. (Lihat Tanya Jawab Masalah Nikah dari A Sampai Z hal 161-163).
Ringkasnya kita punya kewajiban untuk menghormati orang yang memilih pendapat adanya sekufu dalam masalah harta dalam pernikahan. Oleh karena itu, kami nasehatkan kepada orang yang mendapatkan musibah karena hal ini untuk bersabar. Sesungguhnya dunia itu tidaklah selebar daun kelor.
Meski pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan tidak adanya sekufu dalam masalah harta dalam pernikahan.
Muhammad bin Ismail Ash Shan’ani mengatakan, “Terdapat perselisihan yang banyak di antara para ulama tentang sekufu yang harus diperhatikan dalam pernikahan. Pendapat yang kuat adalah pendapat Zaid bin Ali dan Malik. Juga terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa hal ini adalah pendapat Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Sirin, Umar bin Abdul Aziz dan salah satu pendapat An Nashir.Pendapat ini mengatakan bahwa sekufu yang teranggap dalam pernikahan hanyalah agama mengingat firman Allah,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS Al Hujurat:13).
عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الناس ولد آدم وآدم من تراب
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua manusia adalah keturunan Adam dan Adam itu tercipta dari tanah” (HR Ibnu Saad dalam Thabaqat dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Silsilah Shahihah no 1009).[Subulus Salam al Mushilah ila Bulugh Maram 6/58, terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh cetakan keempat 1424H].

Sumber

Dikirim pada 03 Oktober 2012 di Akhlak
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Saya unik sama seperti Anda More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 436.769 kali


connect with ABATASA