0


Uqbah bin `Aamir RA, "Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang ia suka, maka ingatlah sesungguhnya hal itu adalah istidraj".
Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat 44 dari QS Al An`aam [6], yang artinya "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa" (HR Ahmad no. 17349 dan dishahihkan Al Albani di As Silsilah Ash Shahihah no. 414).
Berikut hikmah dari kitab alhikam tentang istidraj
Mari kita aamiinkan bersama doa Umar berikut : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu menjadi mustadraj (orang yang ditarik dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan)" (Al Umm, Imam Sayfi`i, IV/157).


Dikirim pada 14 November 2015 di Tauhid



Alhamdulillah, Allah telah mempertemukan kembali kita dengan Iedul Adha atau Iedul Qurban. Kita juga bersyukur dan berdo’a agar saudara-saudara kita yang melaksanakan ibadah Haji tahun ini diberikan kekuatan dan kesehatan oleh Allah sehingga dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah hajinya dengan aman, lancar dan selamat. Semoga pula mereka dapat kembali ke tanah air dengan sehat dan selamat dan menjadi Haji yang Mabrur.
Seperti kita ketahui, dalam ibadah haji ada tiga kegiatan yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan klimaksnya melempar jumrah di Mina. Tanpa melaksanakan ketiga rangkaian kegiatan ini, ibadah haji seseorang tidak syah.

Pertama, wukuf di Arafah. Arafah adalah padang pasir yang luas. Di tempat ini jutaan manusia berkumpul dengan hanya memakai dua helai kain tak berjahit. Mereka menanggalkan baju kebesaran dunia dan melepaskan segala atribut kepangkatan. Mulai dari raja sampai rakyat biasa, semua sama. Tidak ada satupun yang memakai jas maupun pantalon, batik maupun safari.
Wukuf di Arafah dilakukan siang hari, saat matahari terik menyengat. Semua duduk bersimpuh berdzikir dan beristighfar. Di sini instink dan sifat kemanusiaan dibangkitkan. Akal/rasio dan intelektualitas kita ditempa untuk membaca diri dan alam sekitar, sehingga diharapkan muncul sifat arif. Sesuai dengan namanya, Arafah berarti pengetahuan dan sains . Karena Arafah inilah pertama kali pengetahuan diberikan kepada manusia melalui orang tua kita, Adam AS. “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya….” (Al Baqarah 31). Dengan ilmu pengetahuan inilah manusia mengolah alam ini untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri.

Kedua, Miqat di Muzdalifah. Muzdalifah atau Mas’ar, adalah tempat membina keasadaran dan subjektifitas. Miqat di Muzdalifah dilakukan pada malam hari, di saat hari kelam, tidak ada penerangan, di saat orang-orang tidur lelap. Di tempat ini, para hujjaj berdzikir dan merenung sehingga timbul kesadaran ke-Mahabesaran Allah SWT. Betapa luasnya jagat raya, langitnya berdiri kokoh tanpa ada tiang penyangga. Bintang dan planet-planet bertebaran tanpa ada tali gantungan.
Di saat miqat di tempat ini, para hujjaj beristighfar, bertaubat, meminta ampun kepada Allah sambil mengungkapkan penyesalan atas pebuatan dosanya yang telah dilakukan selama ini. Orang-orang yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan amalan ini, tak jarang airmatanya meleleh membasahi pipinya, bahkan menangis sejadi-jadinya. Dan tangis di kala sepi sambil menyesali diri itulah tangis yang akan mendekatkan kita kepada pengampunan Allah SWT, bukan tangis massal yang dishoot oleh televisi.
Di Muzdalifah ini emosipun dilatih, nurani ditempa untuk “membunuh” dan menghilangkan sifat-sifat tercela yang menyebabkan amal kita ditolak oleh Allah seperti: iri, dengki, jahil, benci, tamak, rakus, dan egoisme. Dengan kesadaran inilah para hujjaj mempersiapkan diri, menyiapkan senjata (berupa batu kerikil) untuk menyerang iblis guna membunuh sifat-sifat jelak itu.

Ketiga, Mina. Di tempat ini berdiri kokoh tiga tugu “monumental” yang disebut “Jamarat”: Jumratul Ula, Jumratul Wustha dan Jumratul Aqabah. Ketiganya melambangkan tiga Syetan yang harus diperangi.Di tempat ini, setelah selesai melaksanakan sholat Subuh di Muzdalifah, para hujjaj bergerak dengan gesit dan penuh semangat “menyerang ketiga iblis itu dengan menggunakan “senjata terhunus” berupa batu-batu kerikil.
Syaitan ini harus dilawan, karena ia selalu memperdaya manusia. Syaitan menyerang titik-titik kelemahan manusia yaitu intelektual, kesadaran dan keyakinan. Oleh karena itu gerakan penyerangan iblis di Mina melambangkan harapan dan idealisme, serta perjuangan dalam membebaskan kita dari serangan Syaitan terhadap ketiga titik kelemahan manusia itu.
Tiga serangan Syaitan ini selalu kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Ia dapat berupa kekuasaan, ia dapat berupa materi atau harta/kekayaan dan juga bisa dalam bentuk kehidupan sosial lainnya. Dalam Al Quran dicontohkan, ada Fir’aun, yaitu lambang pemimpin yang dhalim dan penindas; Qarun, lambang kepitalis yang rakus dan serakah; Hamman, lambang pejabat-pejabat yang munafik, dan Bal’am adalah lambang penegak hukum yang berpihak pada penguasa dan pengusaha, bukan pada kebenaran.
Ibadah haji merupakan sarana untuk membina intelektualitas, kesadaran dan kecintaan manusia terhadap kebenaran. Ibadah haji merupakan bentuk hubungan interaktif dan ketaatan manusia kepada Allah dan sebagai bentuk hubungan antar sesama manusia. Ibadah haji juga mengandung nilai‑nilai eduka­tif, yakni membina jiwa seseorang menjadi mantap dan konsisten dalam menegakkan kebenaran seperti halnya dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Isma’il. Nilai-nilai itu harus diwujudkan dalam perilakunya sehari-hari. Bagi para hujjaj, Rasulullah menyebutkan 2 ciri yang menonjol dari haji yang mambrur, yaitu: afsus-salam, wa ith’amuth- tha’am.

Afsus- salam, artinya menyebarkan salam (keselamatan). Artinya ia harus menjadi tempat bertanya orang yang tidak tahu, tempat meminta pendapat bagi orang yang kebingungan, dan tempat meminta nasihat orang-orang yang sedang kegelapan. Ini dapat difahami, karena karena intelektual mereka telah terbina melalui proses perenungan di Arafah, di Muzdalifah dan di Mina.
Sedangkan ith’amuth tha’am, artinya dermawan, memiliki solidaritas sosial yang tinggi, suka membantu dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Jiwanya gemetar jika ada orang lain yang susah. Ia sadar bahwa harta yang dimilikinya adalah kepunyaan Allah yang setiap saat bisa diambil kembali oleh Allah dengan berbagai cara.
Dengan demikian, ibadah Haji memiliki nilai yang sangat penting bagi kita umat Islam Indonesia yang dewasa ini sedang diuji oleh Allah dengan berbagai ujian, mulai dari ujian bersifat ekonomi, bencana alam, sampai dengan drama Cicak lawan Buaya yang semakin hari semakin membingungkan orang-orang yang bodoh, walaupun masyarakat sudah bisa menebak bahwa dari pertarungan itu yang menang adalah kadal, karena cicak dan buayapun dua-duanya berhasil dikadalin oleh Kadal yang telah dikuasai oleh nafsu angkara murka dari manusia-manusia durjana yang telah dikuasai Syaitan.
Karena itu kita mengingatkan kepada para hujjaj, mari kita lanjutkan perang kita melawan tiga syaitan yang kita lempari waktu lempar jumrah: pertama, Syaitan kecil, yaitu syaitan yang menganggu pikiran dan intelektual manusia. Serangan dari Syaitan kecil ini menyebabkan manusia malas belajar, tidak mau menggunakan akal/pikiran. Akibatnya manusia menjadi bodoh dan terbelakang. Kedua, Syaitan sedang, yaitu syaitan yang menyerang kesadaran, sehingga manusia lupa dan lalai menghadap Allah. Syaitan ini dapat berupa harta atau kekayaan, pangkat, jabatan dan kedudukan, keluarga dan lain-lain. Jika manusia sudah cinta kepada dunia, maka ajaran agama sering diabaikan, agama sering dianggap enteng, lalu kemusyrikanpun merajalela. Ketiga, Syaitan besar, yaitu hawa nafsu yang ada dalam diri manusia, seperti ria, sombong, takabbur, rakus, tamak, dengki, hasad, nifak, dan sebagainya.
Ketiga Syaitan itu harus kita perangi, karena ketiga Syaitan itulah yang menyebabkan manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya. Jika manusia telah kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya, maka hati, mata dan telinga yang dimiliki oleh manusia tidak berfungsi lagi. Itulah yang oleh Allah disebutkan sebagai manusia yang :
“……… mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu tak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai”. (Al –A’raf/7:179).

Sumber

Dikirim pada 05 Oktober 2012 di Tauhid


Bagaimana mungkin hati akan cemerlang, bila gemerlap duniawi terpatri di dinding hati. Demikian ujar Syech ibnu athahilah Ra dalam kitab hikamnya.

Tidak sulit untuk mengetahui apakah dinding hati kita dipenuhi gemerlap dunia atau persiapan untuk akhirat. Lihatlah dibidang apa saja hati ini menjadi resah, bila hati resah karena kehilangan harta, takut tidak kebagian rezeki, berani tidak jujur demi sepeser-dua peser uang, melanggar aturan agama demi dunia.

Itu berarti dinding hati kita tidak sekedar dipenuhi gemerlap duniawi, tetapi sudah menjadi tawanan dunia. Tetapi bila keresahan kita pada shalat yang belum khusuk, bekal akhirat yang masih belum banyak, akhlak yang masih buruk, Itu pertanda hati kita berisi persiapan akhirat.

Memang mustahil untuk tidak terlibat urusan-urusan duniawi, karena kita mencari penghidupan jasmani disini. Dan mempersiapan bekal akhirat disini pula. Namun disaat yang sama, bagi roh kita, gemerlap dunia materi ini racun yang mematikan.

Disinilah kita harus belajar dari lalat. Lalat mencari penghidupan di tempat yang paling menjijikan. Sampah yang sudah membusuk, daging yang sudah menjadi bangkai, nasi yang sudah basi.

Tetapi kita tidak mendengar sekalipun ada lalat yang terserang tipus atau disentri. Mengapa? Menurut ilmuwan, lalat memiliki kebiasaan yang unik. Yaitu; membersihkan diri. Setiap hinggap disuatu tempat, lalat senantiasa membersihkan tangan dan kakinya.

Setelah tangan dan kakinya benar-benar bersih, lalu ia membersihkan kepala dan sayapnya. Untuk makan lalat tidak langsung melahap makanan itu, tetapi ia menuangkan cairan khusus pada makanan dengan belalainya. Mengubah kekentalan makanan agar cocok dengan keadaan tubuhnya.

Setelah itu, barulah dengan pompa penyerap ia masukan makanan itu kerongkongannya, subhanallah luar biasa inilah seni kehidupan spiritual.

Kita harus mampu memagari diri dari racun-racun dunia dengan memasang system kekebalan spiritual. Agama telah memberikan formula anti virus ini. Formulanya adalah makan-makanan yang halal.

Menjadikan kerja sebagai ibadah, hidupkan hati dengan dzikrullah, hentikan aktifitas demi menegakkan shalat, peduli terhadap kesusahan orang lain dengan cara membayar zakat.

Bersyukur ketika mendapatkan, bersabar ketika kehilangan, tawakal dalam ketidakpastian, dan ketahuhiidan yang kokoh yaitu segala sesuatu ada dalam genggaman Allah SWT.

Ada satu kalimat ringkas yang mencakup hal ini, yaitu; tubuh bergaul dengan makhluk, hati bergaul dengan khalik, memang tidak gampang, wassalamu’alaikum Wr. Wb.

sumber: http://nabungamalsholeh.blogspot.com/2012/03/tubuh-bergaul-dengan-makhluk-hati.html

Dikirim pada 09 Maret 2012 di Tauhid

1. Membaca al-Qur’an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidak lain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal dan mampu menjelaskan al-Qur’an agar difahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt.
Al-Qur’an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak dapat ditandingi dengan kemuliaan apa pun. Ibnu Sholah mengatakan “Membaca Al-Qur’an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan seperti itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia”.

2. Taqarrub kepada Allah S.w.t, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardhu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardhu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah.
Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.
3. Mengamalkan zikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melalui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar zikir kepadaNya.
Zikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :”Aku bersama hambaKu, selama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berzikir) kepadaKu”.
4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Mengutamakan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. artinya ia rela mencintai Allah meskipun berisiko tidak dicintai oleh mahluk.
Inilah darjat para Nabi, di atas itu darjat para Rasul dan di atasnya lagi darjat para rasul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah darjat Rasulullah Muhammad S.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.
5. Kesinambungan musyahadah (menyaksikan) dan ma’rifah (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesedaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma’rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi).
Barang siapa ma’rifah kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af’al-af’al Allah dengan penyaksian dan kesedaran yang mendalam, nescaya akan dicintai Allah.
6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan menghantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t.
Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan menghantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.
7. Ketundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu’. Hati yang khusyu’ tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan menghantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.
8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Bilakah itu? yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke langit dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah. Walaubagaimana pun sifat turunnya Allah S.w.t itu TIDAK SAMA dengan turunnya makhluk dan hanya tidak boleh dibincang-bincangkan bagaimana.
9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka ia pun akan mendapatkan cinta Allah S.w.t.
10. Menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikasi kalbu dengan Al-Khaliq, iaitu Allah subhanahu wataala.

Antara sebab-sebab untuk mendapatkan cinta dari Allah S.w.t ialah;

- Membaca Al-Qur’an dengan memikir dan memahami maknanya.
- Berusaha mendekatkan diri kepada Allah S.w.t dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah yang wajib.
- Selalu mengingati Allah S.w.t , baik dengan lisan, hati mahupun dengan anggota badan dalam setiap keadaan.
- Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah S.w.t daripada dirinya ketika hawa nafsunya menguasai dirinya.
- Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat Allah.
- Melihat kebaikan dan nikmatNya baik yang lahir mahupun yang batin.
- Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.
- Beribadah kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir (di saat Allah turun ke langit dunia) untuk bermunajat kepadaNya, membaca Al-Qur’an , merenung dengan hati serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.
- Duduk dengan orang-orang yang memiliki kecintaan yang tulus kepada Allah dari para ulama dan da’i, mendengarkan dan mengambil nasihat mereka serta tidak berbicara kecuali pembicaraan yang baik.
- Menjauhi/menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingati Allah Subhannahu wa Ta’ala .


Oleh : Imam Ibnu Qayyim AlJauziyyah

Sumber :http://nabungamalsholeh.blogspot.com/2011/04/meraih-cinta-allah.html#more

Dikirim pada 06 April 2011 di Tauhid
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Saya unik sama seperti Anda More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 416.526 kali


connect with ABATASA