0


Uqbah bin `Aamir RA, "Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang ia suka, maka ingatlah sesungguhnya hal itu adalah istidraj".
Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat 44 dari QS Al An`aam [6], yang artinya "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa" (HR Ahmad no. 17349 dan dishahihkan Al Albani di As Silsilah Ash Shahihah no. 414).
Berikut hikmah dari kitab alhikam tentang istidraj
Mari kita aamiinkan bersama doa Umar berikut : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu menjadi mustadraj (orang yang ditarik dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan)" (Al Umm, Imam Sayfi`i, IV/157).


Dikirim pada 14 November 2015 di Tauhid


Jlebbers, salah satu kunci pengembangan diri yang banyak diabaikan adalah berdo’a. Diawali dengan do’a yang penuh harapan dan diakhiri dengan doa yang penuh kesyukuran, maka pengembangan diri seorang insan akan melejit diahsyiit dengan izin Allah, melejit melebihi prestasi manusia lainnya yang hanya bergantung kepada strategi semata.
Seorang sahabat Mr. Jlebb yang berprofesi sebagai Trainer bercerita bahwa impiannya di tahun 2010 adalah mendapatkan penghasilan 1M.
Ternyata, hingga Desember 2010 penghasilannya masih jauh dari 1M. Sampai pada suatu saat di bulan Desember 2010, ketika ia tengah mengisi sebuah acara di hadapan sekitar 1000 audien, ia mengalami sebuah peristiwa yang sungguh menyakitkan, yakni : dakwahnya atau materi trainingnya tidak diterima oleh audien di sana, bahkan ada audien yang berteriak : “Turuuuuun….” padahal training baru berlangsung 15 menit-an …. hmm cukup menyakitkan memang… sakitnya tuh di sini. Jlebb.
Akhirnya, ia pun menghentikan trainingnya dan berkata pada dirinya sendiri : “Do’aku sedang dikabulkan Allah, aku tak boleh marah”.
Dan, subhaanallaah, sekitar 2 pekan kemudian, ia mendapat rejeki tak terduga dalam bentuk uang yang sangat besar (atas permintaan beliau, maka nominalnya tidak boleh disebutkan), hingga jika ditotalkan dalam satu tahun mencapai lebih dari 1M, yang besarnya dalam bentuk uang plus dalam bentuk lainnya : anak yang semakin sholeh, koneksi yang bertambah banyak, istri yang semakin sholihah, kesehatan yang semakin membaik, dan lain sebagainya…
So, para Jlebbers, bersabarlah atas proses terkabulnya doa Anda, sebab RAHASIA PERTAMA terkabulnya doa yang perlu Anda ketahui adalah bahwa : Ketika kesulitanmu memuncak, lalu engkau mampu bersabar dan tetap tenang, berarti saat itu do’amu sedang dikabulkan-Nya. Bukankah bersama kesulitan pasti ada kemudahan?
Kini mari kita telusuri apa rahasia yang kedua. Jlebbers, tahukah Anda bahwa Allah tidak terikat oleh tempat dan waktu, melainkan waktu dan tempat lah yang terikat kepada Allah?
Itu sebabnya, RAHASIA KEDUA bahwa do’a Anda pasti dikabulkan-Nya di “saat ini” juga adalah apabila Anda meminimalisir keterikatan Anda terhadap waktu dan lalu mengoptimalkan keterikatan Anda kepada Yang Maha Menguasai Waktu. Maksudnya apa Mr. Jlebb?
Begini, ciri orang yang masih terikat kepada waktu adalah “bosan dan letih dalam menunggu”. Dengan demikian, ketika Anda sedang dan setelah berdo’a dengan penuh harapan maka jangan tunggu-tunggu kapan do’a itu terkabul, apalagi menunggu dengan perasaan bahwa doa Anda takut tidak dikabulkan-Nya, sebab seringkali apapun yang “ditunggu” akan terasa lama serta seringkali hanya akan menyiksa jiwa Anda. Ingatlah bahwa Tuhan Anda adalah Allah, bukan waktu, maka bergantunglah kepada Allah.
Nikmatilah hidup Anda saat ini juga, sebab dalam pandangan-Nya “saat ini” do’a Anda sedang dikabulkan-Nya. Firman-Nya : “Berdo’alah kepada-Ku, langsung Aku kabulkan”. Apakah Anda percaya kepada Firman Allah tersebut? Jika percaya gak usah pakai ragu dong… percaya saja… yakin 100% langsung dikabulkan oleh Allah.
Mungkin Anda mempertanyakan : “Hai Mr. Jlebb, ente jangan asal ngomong ya, ane sudah doa tidak ada yang langsung dikabulkan, semuanya butuh waktu, semuanya berproses…”. Baiklah, jika itu pertanyaan Anda maka ketahuilah yang berproses itu adalah ikhtiar kita, sedangkan do’anya sudah langsung dikabulkan. Kok bisa?
Begini, Anda misalkan punya gelas bervolume 250 ml, lalu Anda berdoa “Ya Allah, hadirkan air di gelasku ini sebanyak 700 liter air”, maka Allah dengar dan Allah kabulkan do’a Anda, namun Allah pun bersabar dalam mengabulkan doa Anda sebab kapasitas Anda baru 250 ml padahal permintaan Anda adalah 700 liter air.
Jadi sebenarnya, bukan Anda yang bersabar menunggu terkabulnya do’a yang Anda panjatkan, tapi Allah lah yang sedang sangat bersabar menunggu Anda, hamba-Nya, memantaskan diri, melayakkan diri, meningkatkan kapasitas diri agar siap dan mampu menerima cairnya doa Anda tersebut. Jlebb.
Oh Allah I love You, ternyata Engkau sungguh bersabar menunggu kami berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk mencapai impian-impian kami atas do’a-do’a yang kami panjatkan, terimakasih ya Allah, ampunilah kami…
Sekarang mari kita lanjutkan ungkap rahasia yang ketiga. Jlebbers, sebetulnya tujuan do’a itu dilakukan agar kita tak lagi fokus kepada APA yang kita pinta, tapi kembali tenang dan fokus kepada SIAPA kita meminta. So, RAHASIA KETIGA do’a Anda sedang dikabulkan-Nya adalah ketika Anda lebih sering mengingat-Nya dibandingkan mengingat apa yang Anda pinta kepada-Nya.
Misalkan, jika Anda berdo’a meminta mobil, maka jika Anda PERCAYA bahwa DIA pasti mengabulkan atau mengganti APA yang Anda pinta dengan yang terBAIK, maka Anda tak perlu lagi istiqomah melakukan “Dzikrul Mobil” (Mengingat Mobil) melainkan kembali fokus melakukan Dzikrul Allah (Mengingat Allah).
Do’a itu adalah teknik spiritual untuk melepaskan, mengembalikan, dan menyerahkan berbagai keinginan dan harapan Anda kepada-Nya, sehingga Anda bisa kembali tenang mengingat dan mengabdi kepada-Nya, tenang dan bahagia mencari dan menemukan berbagai karunia-Nya.
Ya, kita memang disuruh MEMINTA kepada-Nya, tapi kita tidak disuruh BANYAK-BANYAK MEMINTA kepada-Nya, melainkan kita disuruh BANYAK-BANYAK BERDZIKIR kepada-Nya. Itu mengapa, jangan sampai justru Do’a yang kita panjatkan kepada-Nya malah melalaikan kita dari mengingat-Nya. Ini adalah hal yang sungguh tidak mulia … Jlebb.
“Hai orang-orang yang beriman, berDZIKIRlah kepada Allah dengan DZIKIR yang seBANYAK-banyaknya.. “(Q.S. 33 : 41-42)
Bahkan jika kita perhatikan hadits berikut, berDZIKIR memang lebih ampuh dibandingkan dengan meminta.
“Barang siapa yang disibukkan berDZIKIR kepadaKU daripada MEMINTA kepadaKU, maka AKU akan memberinya lebih dari yang biasa diminta oleh para peminta” (H.R. Bukhori).
“BerDZIKIRlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung.” (Q.S. 62:10).
Nah, Jlebbers, dengan demikian, FUNGSI UTAMA dari berdo’a adalah untuk MENGINGAT ALLAH, dan FUNGSI KEDUA dari berdo’a adalah agar kita tidak TERIKAT terhadap apa yang kita pinta, dan kembali hidup MERDEKA bersama-NYA.
Ya, do’a itu berfungsi agar kita tak lagi terlalu memikirkan apa yang kita pinta kepada-Nya, karena kita sudah sungguh-sungguh PERCAYA bahwa DIA pasti mengabulkan do’a kita … Nah, inilah RAHASIA KEEMPAT terkabulnya do’a adalah bahwa Anda sudah tidak terikat lagi atas apa yang Anda pinta kepada-Nya sebab Anda sudah sangat percaya bahwa DIA pasti mengabulkan do’a Anda. Tanyakan diri Anda : “Apakah saya sudah sungguh-sungguh percaya bahwa Allah pasti mengabulkan do’a saya atau digantikan-Nya dengan yang terbaik bagi saya?”
Cobalah pikirkan, seseorang biasanya sering mengingat-ingat orang yang berhutang kepadanya karena ia ragu atau tak percaya kepada orang tersebut. ia tak percaya bahwa hutangnya akan dibayar. Begitu pun, jika Anda ragu atau tak percaya bahwa apa yang Anda pinta tidak akan dikabulkan-Nya, maka Anda akan terus meminta-minta hal yang sama kepada Allah. Anda ragu bahwa Allah lupa atau tidak akan mengabulkan doa Anda.
Jlebbers, SADARILAH bahwa tak mungkin Dia ingkar janji, tak mungkin Dia tidak mengabulkan do’a Anda. Sungguh Tidak Mungkin, kecuali Anda lah yang mengkhianati-Nya, Anda lah yang enggan memantaskan diri di hadapan-Nya.
Namun tentunya tak masalah bila Anda meminta kepada-Nya berulang-ulang, tapi bukan dalam rangka meragukan kemampuan-Nya untuk mengabulkan do’a-do’a Anda, melainkan dalam rangka mendekatkan diri Anda kepada-Nya, atau bukan hanya dalam rangka mendekatkan diri Anda kepada apa yang Anda pinta.
“Dikabulkan do’a salah seorang dari kamu, selama ia tidak tergesa-gesa mengucapkan ‘saya sudah berdo’a tapi belum juga dikabulkan`” (H.R. Bukhori dan Muslim)
Jlebbers, dan inilah RAHASIA KELIMA bahwa do’a Anda pasti dikabulkan-Nya, yaitu ketika Anda SEDANG DEKAT kepada-NYA. Bagaimana caranya?
Begini, misalkan Anda ingin pulang kampung, anggap kampung Anda di Padang. Eh, ternyata Anda salah menaiki pesawat, maka mau-tidak mau Anda harus segera keluar dari pesawat tersebut serta MENDEKAT dan KEMBALI kepada pesawat yang benar sehingga ANDA bisa MENDEKAT dan KEMBALI ke kampung halaman Anda, dan bukan ke kampung halaman orang lain.
Jika Anda sudah KEMBALI ke pesawat yang benar, maka Anda bisa mengatakan kepada Pilotnya “Om Pilot, bisa tolong antar saya ke Padang ya?” Maka Om Pilot akan mengantarkan Anda ke Padang, bahkan sekalipun Anda tidak memintanya, sebab pesawat tersebut memang bertujuan ke Padang.
Allah berfirman “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku ini DEKAT. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam keLURUSan.” (Al-Baqarah: 186)
Berdasarkan ayat di atas dapat disimpulkan bahwa do’a akan dikabulkan-Nya manakala kita menyadari bahwa Allah itu DEKAT, dan agar kita DEKAT kepada-NYA tentu saja kita harus berusaha mendekat kepada ALLAH. Namun, jika kita masih berada di jalan yang salah, bergelimang dosa, maka berarti kita “salah naik pesawat”. Sehingga, jika kita KEMBALI (taubat) dari jalan yang salah menuju jalan yang benar, yaitu jalan-Nya yang LURUS, maka kita pun menjadi DEKAT kepada-Nya. Perhatikan kembali firman-Nya “maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam keLURUSan.”
Wallahu a’lam

Mr. Jlebb
Sumber : www.Jlebb.com

Dikirim pada 06 Oktober 2015 di Alquran


Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥
Tak mudah menjadi lelaki sejantan Salman. Tak mudah menjadi sahabat setulus Abud Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita sejujur shahabiyah yang kelak kita kenal sebagai Ummud Darda’. Belajar menjadi mereka adalah proses belajar untuk menjadi orang yang benar dalam menata dan mengelola hati. Lalu merekapun bercahaya dalam pentas sejarah. Bagaimanakah kiranya?
Ijinkan saya mengenang seorang ulama yang berhasil mengintisarikan Ihya’ ‘Ulumiddin karya Imam Al Ghazali. Ustadz Sa’id Hawa namanya. Dalam buku Tazkiyatun Nafs, beliau menggambarkan pada kita proses untuk menjadi orang yang shadiq, orang yang benar. Prosesnya ada empat, ialah sebagai berikut,

Shidqun Niyah
Artinya benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.
Shidqul ‘Azm
Artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa.
Shidqul Iltizam
Artinya benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqamahkan dzikir, fikir, dan ikhtiyar.
Shidqul ‘Amaal
Artinya benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.
Nah, mari coba kita refleksikan proses menjadi orang benar ini dalam proses menuju pernikahan. Seperti Salman. Ia kuat memelihara aturan-aturan syar’i. Dan mengharukan caranya mengelola hasrat hati. Insyaallah dengan demikian keberkahan itu semakin mendekat. Jikalau Ash Shidq berarti kebenaran dan bermakna kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.
♥♥♥
Apa kiat sederhana untuk menjaga hati menyambut sang kawan sejati? Dari pengalaman, ini jawabnya: memfokuskan diri pada persiapan. Mereka yang berbakat gagal dalam pernikahan biasanya adalah mereka yang berfokus pada “Who”. Dengan siapa. Mereka yang insyaallah bisa melalui kehidupan pernikahan yang penuh tantangan adalah mereka yang berfokus pada “Why” dan “How”. Mengapa dia menikah, dan bagaimana dia meraihnya dalam kerangka ridha Allah.
Maka jika kau ingin tahu, inilah persiapan-persiapan itu:
Persiapan Ruhiyah (Spiritual)
Ini meliputi kesiapan kita untuk mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggung jawab, sedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada. Ada penekanan juga untuk siap menggunakan dua hal dalam hidup yang nyata, yakni sabar dan syukur. Ada kesiapan untuk tunduk dan menerima segala ketentuan Allah yang mengatur hidup kita seutuhnya, lebih-lebih dalam rumahtangga.
Persiapan ‘Ilmiyah-Fikriyah (Ilmu-Intelektual)
Bersiaplah menata rumahtangga dengan pengetahuan, ilmu, dan pemahaman. Ada ilmu tentang Ad Diin. Ada ilmu tentang berkomunikasi yang ma’ruf kepada pasangan. Ada ilmu untuk menjadi orangtua yang baik (parenting). Ada ilmu tentang penataan ekonomi. Dan banyak ilmu yang lain.
Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Jika memiliki penyakit-penyakit, apalagi berkait dengan kesehatan reproduksi, harus segera diikhtiyarkan penyembuhannya. Keputihan pada akhwat misalnya. Atau gondongan (parotitis) bagi ikhwan. Karena virus yang menyerang kelenjar parotid ini, jika tak segera diblok, bisa menyerang testis. Panu juga harus disembuhkan, he he. Perhatikan kebersihan. Yang lain, perhatikan makanan. Pokoknya harus halal, thayyib, dan teratur. Hapus kebiasaan jajan sembarangan. Tentang pakaian juga, apalagi pada bagian yang paling pribadi. Kebiasaan memakai dalaman yang terlalu ketat misalnya, berefek sangat buruk bagi kualitas sperma. Nah.
Persiapan Maaliyah (Material)
Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami. Persiapan finansial #Nikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus kita punya. Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas menghasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan mengelola sejumlah apapun ia.
Maka memulai per nikahan, BUKAN soal apa kita sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi. Adalah ‘Ali ibn Abi Thalib memulai pernikahannya bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dan lain-lain dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.
Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: pernikahan itu jalan Allah membuka kekayaan (QS 24: 32). Buatlah proyeksi nafkah rumahtangga secara ilmiah & executable. JANGAN masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutanNya.
Kemapanan itu tidak abadi. Saat belum mapan masing-masing pasangan bisa belajar untuk menghadapi lapang maupun sempitnya kehidupan. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite, signifikan memperkuat ikatan cinta. Ketidakmapanan yang dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung dan meningkatkan angka harapan hidup.

Persiapan Ijtima’iyyah (Sosial)
Artinya, siap untuk bermasyarakat, faham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat. Juga tak kalah penting, memiliki visi dan misi da’wah di lingkungannya.

Nah, ini semua adalah persiapan. Artinya sesuatu yang kita kerjakan dalam proses yang tak berhenti. Seberapa banyak dari persiapan di atas yang harus dicapai sebelum menikah? Ukurannya menjadi sangat relatif. Karena, bahkan proses persiapan hakikatnya adalah juga proses perbaikan diri yang kita lakukan sepanjang waktu. Setelah menikah pun, kita tetap harus terus mengasah apa-apa yang kita sebut sebagai persiapan menikah itu. Lalu, kapan kita menikah?

Ya. Memang harus ada parameter yang jelas. Apa? Rasulullah ternyata hanya menyebut satu parameter di dalam hadits berikut ini. Satu saja. Coba perhatikan.

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bermampu BA’AH, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Hanya ada satu parameter saja. Apa itu? Ya, ba’ah. Apa itu ba’ah? Sebagian ‘ulama berbeda pendapat tetapi menyepakati satu hal. Makna ba’ah yang utama adalah kemampuan biologis, kemampuan berjima’. Adapun makna tambahannya, menurut Imam Asy Syaukani adalah al mahru wan nafaqah, mahar dan nafkah. Sedang menurut ‘ulama lain adalh penyediaan tempat tinggal. Tetapi, makna utamalah yang ditekankan yakni kemampuan jima’.

Maka, kita dapati generasi awal ummat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda. Bahkan sejak mengalami ihtilam (mimpi basah) pertama kali. Sehingga, kata Ustadz Darlis Fajar, di masa Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, tidak ada kenakalan remaja. Lihatlah sekarang, kata beliau, ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh menyejarah menikah di usia belasan. Yusuf Al Qaradlawi menikah di usia belasan, ‘Ali Ath Thanthawi juga begitu. Beliau lalu mengutip hasil sebuah riset baru di Timur Tengah, bahwa penyebab banyaknya kerusakan moral di tengah masyarakat adalah banyaknya bujangan dan lajang di tengah masyarakat itu.

Nah. Selesai sudah. Seberapa pun persiapan, sesedikit apapun bekal, anda sudah dituntut menikah kalau sudah ba’ah. Maka persiapan utama adalah komitmen. Komitmen untuk menjadikan pernikahan sebagai perbaikan diri terus menerus. Saya ingin menegaskan, sesudah kebenaran dan kejujuran, gejala awal dari barakah adalah mempermudah proses dan tidak mempersulit diri, apalagi mempersulit orang lain. Sudah berani melangkah sekarang? Apakah anda masih perlu sebuah jaminan lagi? Baik, Allah akan memberikannya, Allah akan menggaransinya:

“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari ma’shiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.” (HR At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Pernah di sebuha milis, saya juga menyentil sebuah logika kecil yang pernah disampaikan seorang kawan lalu saya modifikasi sedikit. Apa itu? Tentang bahwa menikah itu membuka pintu rizqi. Jadi logikanya begini. Jatah rizqi kita itu sudah ada, sudah pasti sekian-sekian. Kita diberi pilihan-pilihan oleh Allah untuk mengambilnya dari jalan manapun. Tetapi, ia bisa terhalang oleh beberapa hal semisal malas, gengsi, dan ma’shiat.

Kata ‘Umar ibn Al Khaththab, pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu kemungkinannya dua. Kalau tidak banyak ma’shiatnya, pasti diragukan kejantanannya. Nah, kebanyakan insyaallah jantan. Cuma ada ma’shiat. Ini saja sudah menghalangi rizqi. Belum lagi gengsi dan pilih-pilih pekerjaan yang kita alami sebelum menikah. Malu, gengsi, pilih-pilih.

Tapi begitu menikah, anda mendapat tuntutan tanggungjawab untuk menafkahi. Bagi yang berakal sehat, tanggungjawab ini akan menghapus gengsi dan pilih-pilih itu. Ada kenekatan yang bertanggungjwab ditambah berkurangnya ma’shiat karena di sisi sudah ada isteri yang Allah halalkan. Apalagi, kalau memperbanyak istighfar. Rizqi akan datang bertubi-tubi. Seperti kata Nabi Nuh ini,

“Maka aku katakan kepada mereka: “Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh 10-12)

Pernah membayangkan punya perkebunan yang dialiri sungai-sungai pribadi? Banyaklah beristighfar, dan segeralah menikah, insyaallah barakah. Nah, saya sudah menyampaikan. Sekali lagi, gejala awal dari barakahnya sebuah pernikahan adalah kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syaria’t, dan memudahkan diri. Ingat kata kuncinya; jujur, syar’i, mudah. Saya sudah menyampaikan, Allaahummasyhad! Ya Allah saksikanlah! Jika masih ada ragu menyisa, pertanyaan Nabi Nuh di ayat selanjutnya amat relevan ditelunjukkan ke arah wajah kita.

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (Nuh 13)
Begitulah. Selamat menyambut kawan sejati, sepenuh cinta.

Judul asli Menjaga, Menata, lalu Bercahaya
Oleh : Salim A fillah I http://salimafillah.com/menjaga-menata-lalu-bercahaya/

Dikirim pada 12 Januari 2013 di Akhlak


Puasa Arafah adalah puasa yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa Arafah dinamakan demikian karena saat itu jamaah haji sedang wukuf di terik matahari di padang Arafah. Puasa Arafah ini dianjurkan bagi mereka yang tidak berhaji. Sedangkan yang berhaji tidak disyariatkan puasa ini.

Mengenai hari Arofah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hari Arofah adalah hari pembebasan dari api neraka. Pada hari itu, Allah akan membebaskan siapa saja yang sedang wukuf di Arofah dan penduduk negeri kaum muslimin yang tidak melaksanakan wukuf. Oleh karena itu, hari setelah hari Arofah –yaitu hari Idul Adha- adalah hari ‘ied bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Baik yang melaksanakan haji dan yang tidak melaksanakannya sama-sama akan mendapatkan pembebasan dari api neraka dan ampunan pada hari Arofah.” (Lathoif Al Ma’arif, 482)

Mengenai keutamaan puasa Arafah disebutkan dalam hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

Ini menunjukkan bahwa puasa Arafah adalah di antara jalan untuk mendapatkan pengampunan di hari Arafah. Hanya sehari puasa, bisa mendapatkan pengampunan dosa untuk dua tahun. Luar biasa fadhilahnya ...
Hari Arafah pun merupakan waktu mustajabnya do’a sebagaimana disebutkan dalam hadits,
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu)”.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Insya Allah hari Arafah di tahun ini akan jatuh pada tanggal Kamis 25 Oktober 2012. Semoga kita termasuk orang yang dimudahkan oleh Allah untuk melakukan puasa tersebut dan meraih keutamaan di dalamnya. Aamiin

Sumber : http://nabungamalsholeh.blogspot.com/2012/10/tentang-puasa-arafah.html

Dikirim pada 18 Oktober 2012 di Akhlak



1.Sasana Pakarti

Jl. Duren 3 No. 12 Ps. Minggu
Telp: (021) 797 4075 Ibu Emon/Ibu Karno

* Ruang AC + Ruang Rias 3 dgn AC
* Kapasitas 1000-1200 orang
* Meja penerima tamu + 8 kursi incl
* Incl Ijin/car call/karpet jln/sound/mike 4/200 kursi lipat
* parkir luas
* Max pemakaian = 4 jam

2.Graha SUCOFINDO, 1st Floor

Kapasitas: 1200 org
Catering: 40rb-43rb-47rb per porsi
Office hours: jam 8-5 sore senen-jumat
Jl. Raya Pasar MInggu Kav. 34, Jakarta 12780,
INDONESIA, PO BOX 3277 Jakarta 10001
Phone : (62-21) 798 6657 - 58 (Direct),
(62-21) 798 3666 ext 1116, 1124
Fax : (62-21) 798 6473, 798 3888
email : customer.service@sucofindo.co.id

3.Menara Jamsostek

Jl. Jend Gatot Subroto lt. 10 (outdoor)
Jakarta Selatan

4.Aula Pangeran Kuningan

Gd. Grha Citra caraka / TELKOM, Jl. Gatot Subroto No. 52 Jakarta 12930
Telp: 021-5204729
Faks: 021-5204729
Auditorium Telkom 521 5300

5.Aula Masjid Baiturrahman

Komp. MPR/DPR RI Jakarta
Telp: 021-571.5879

6.Gedung Manggala Wanabakti Lt.2,
Jl. Jend. Gatot Subroto Senayan, Jakarta Pusat
Telepon: (langsung) 573 2707, (operator) 570 3265 s/d 570 3246 pesawat 5190 s/d 5194.
021 570 1147 (http://manggala.or.id/
Office hours: 9.00 - 16.00

7.BPK
Gatsu kav. 31
5704395

8.Departemen Perindustrian
525.5509 ex 2231/5103
Jalan Gatot Subroto Kav. 52-53, Jakarta 12950
Tel (021)5252194, 5271380, 5271387-88
Fax (021)5261086
CP: mbak Imel di 5255509 ext. 5081/2231(?).
Kapasitas 600 org

9.Birawa Assembly Hall
Gatot Subroto Kav. 71-73, Pancoran Jakarta 12870
Telp: 021-83793555
Faks: 021-83793554
Paket hotel 72-80rb/pax

10.FINANCIAL CLUB JAKARTA
Graha Niaga, 27th & 28th Floor
Jendral Sudirman Kav. 58
Jakarta 12190, Indonesia
Telp : + 62 21 2505090
Fax : + 62 21 2505091

11.Jakarta International Club
Telp : 5746608
CP : Ibu Uli
Tidak ada biaya gedung,
lokasi di Wisma 46 Lantai 46 (Lotus/Azalea/Lavender Room)
Kapasitas: Kafe 300-400 standing, Lt. 1 700-800 standing
Catering/pax: 108800++
Include: free flow softdrink, ice carving, red carpet, president room dari jam 7 s/d selesai
Stall 15rb-22rb++ (Tax 21%)


12.Wisma Indocement
Auditorium II Lt. 3,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 70-71
Jakarta Selatan
Telp: 021-5705863
Faks: 021-65311235


13.BPPT
(seberang Pan Pacific, setelah menara Thamrin sebelum DepAg)
Kapasitas 1500, Jl. M.H. Thamrin No.8
Jakarta 10340
Phone : (021) 316 8449 Fax : (021) 314 0190

Lemhanas -> Panca Gatra?
Lokasi : diantara 2 sisi jalan yaitu akses masuk melalui medan merdeka selatan (sederetan kedubes amerika / kantor walikota) & kebun sirih (seberang penang bistro, sebelah gedung dewan pers).
Telp nya : 3832471,3509095.
Buka hanya hari Senin, Rabu, Jumat
Jam 10.00-14.00 siang.


14.Wisma Antara/Auditorium Adhiyana Lt. 2
charge catering 15% sound system 500rb dekorasi 250rb listrik 250rb
kapasitas 800 full carpet
Jl. Medan Merdeka Selatan 17
Jakarta Pusat
Mbak Hesti
Phone : (021) 350 7103 Ext. 204
Fax : (021) 350 6615 9.00-6.30

15.Gedung BDN -> Bank Syariah Mandiri
Jl. MH. Thamrin No. 5
Jakarta Pusat
Jakarta
Telp: 021-39833119, 021-2300800 ext. 0560
Faks: 021-39833119


16.Pendopo Sapta Taruna Departemen Pekerjaan Umum
Jl.Patimura/20, Kebayoran Baru, JakSel
Gedung PU Belakang Al-Azhar
Kapasitas: 800 org
Bpk. Eno (08129722446 / 7394186 /7250311 /7395588)


17.DepKes
Kapasitas: 800 org
Jl. Rasuna Said, Kav. X-5, No. 4-9, Kuningan - Jakarta (setelah Kadin/Indorama)
CP: Ibu Mumun / Pak Made : 021 - 5201590 / 5253558


18.Granadi
Fasilitas: kursi 100 buah, listrik 10000 watt, izin, ruang rias dll
Jl. HR Rasuna Said Blok X-1 Kav 8-9
Jakarta Selatan
setelah great river, seberang depkes
Phone : (021) 2522 745 Ext 1059


19.Auditorium Langen Palikrama
Pegadaian Pusat
Jl Salemba Raya no 62
Telp :0213925958 atau 0213148486
31555550

20.Gedung Depsos Salemba
Jl. Salemba Raya no. 28
Telp. 3103806

21.Gedung Aneka Tambang
021 7891234

22.Patra Jasa
Gatot Subroto 021 521 7217/ 5251604

23.WTC
Jl. Jend. Sudirman 2522135
Sewa :


24.Dharma Wanita Persatuan Pusat

Kapasitas : 1200 orang
catering: 40rb/45rb/50rb - min. 800porsi
Jl. Pedurenan Masjid Karet Kuningan
(Belakang Gedung Sentra Mulia)
Jakarta Selatan
Telpon : 021-5201714/6/18
Email : info@dwp.or.id
Office hrs: 8.00-16.00 Senin Rabu Kamis

25.Barawidya Sasana/PTIK
Kebayoran Baru 7398285
kapasitas 1000-2000


26.Deptan, Ragunan
7806131/6134/4116 ext. 2123
Pak Sulis 081519918577
(full s/d 2009)

27.Gedung Arcadia Nestle
Jl. TB Simatupang Kav 88 Jakarta Selatan
Telf : 021 7883 8722
Fax : 021 78838717
Kapasitas :Reception Hall & Poolside area 800 - 1000 orang resepsi berdiri (outdoor)


28.Klub Persada - Halim

fee dekor rekanan 1,5jt, non rekanan 3jt
fee katering rekanan 30%, non rekanan 40%
fee foto rekanan 750, non rekanan 1,5jt
fee listrik 500rb

29.Gedung Arsip Nasional RI (outdoor)
Jl. Gajah Mada Jakarta
Telp: 021-6347744
Faks: 021-63 855364

30.Graha Dwi Warna
Jl. Kebon Sirih Raya
Jakarta 11480
Phone : (021) 53671994

31.Al-Azhar, Masjid 7245682
32.Al-Bina, Masjid 5734070 Ext 514
33.Al-Ihsan, Masjid Kebayoran 7244630/7243128
34.Angkasa Pura – kemayoran 6541961/6541668
35.Anjungan Jawa Tengah,TMII 8400220 / 8415991
36.Anjungan DIY,TMII 87792040 /8409348
37.Ardyaloka, HALIM 8098602
38.Arsip nasional 6347744
39.At-Taqwa, Masjid Kebayoran 7208815/7207247
40.At-Taqwa, Masjid Kemanggisan 5328243/5493424

41.At-Taqwa, Masjid Ps.Minggu 7987280
42.At-Tiin (TMII), Masjid 87795564/87794272
43.Baiturrahman, Masjid 5715879
44.Baitussalam-PLN, Masjid 7973774 ext. 1126
45.Baitut Tholibin, Masjid 5741521
46.Balai Samudra 45851721-24-25
47.Balai Sudirman 83791623-30
48.Bapindo Plaza 5266625/5266017
49.BEA CUKAI, Rawamangun 4890308 ext. 156
50.Bhayangkari 7260067/7217178

51.Bidakara(Binakarna,Birawa,Garden)83793555/83793529
52.Bimasakti 7900487
53.BKKBN-HALIM 8009045
54.BPK 5704395 Etx.121
55.BPPT 3168343-44/3162048
56.Caraloka 7222226
57.Cawang kencana 8011346-49
58.Darussalam, Masjid Cipinang 4715254
59.DepDagRi 7983769
60.Dep-Kes 5253558

61.Dept Perindustrian 5255509 ext. 5081
62.DepSos / Aneka bakti 3103806/3103591
63.DepNaKer 5255733/5251036
64.Dharma Wanita Pusat,Kuningan 5201714-18
65.DPR Kalibata 7989863-64
66.Gedung PELNI 3448227/3844395
67.Gedung Wisma Antara 3507103-04
68.Graha garini, Halim 8019823
69.Graha Jala Bakti 7699548/7692676
70.Graha Pondok Pinang 7652611

71.Graha Purna Wira 7207940
72.Granadha / Balai Sarbini 5251526/5203313
73.Granadi 2522745 Ext.1046
74.Griya Ardya Garini,Halim 8097602/8019248
75.Griya Taman Palem 7940639
76.Hermina 7982960
77.IBI (LPPI) 71792021 ext. 275
78.Istana Kana 332224/334443
79.Karsa Pemuda 5720845
80.KejaGung 7203061-65

81.Kiani Murni-Kalimanis 7985969-79
82.Klub Persada HALIM 8009118
83.Korpatarin 4898130
84.K-winanku 70009772
85.Makarti Muktitama 7993376
86.Manggala Wana Bhakti 5701147 ext. 5528
87.Menara BTN 6346880-81
88.Ni’Matul Ittihad, Masjid 7651253
89.Nyi Ageng Serang 5263219/5736544
90.Oktroi Plaza, Kemang 7197710/7196420

91.Pandan Sari, Cibubur 8731859
92.Parpostel 3522915-16
93.Patra Jasa 5217222
94.Pegadaian 3155550 ext. 146
95.Pertamina CemPut 4247322
96.Pertamina SIMPRUK 7250500/7210500
97.Pesona Khayangan 77820333/77820552
98.Pewayangan 87796316-18
99.PLN-Ragunan 7811292
100.PNSPI,TMII 8416011 etx.192-390

101.Pondok indah, Mesjid 7666165/7652974
102.PTIK 7208239/7398285
103.Puri Ardya Garini, HALIM 8006322
104.Pusdiklat BRI 78830368 ext.2121
105.Rumah Alexandra 717942629
106.Rumah Saya 7976683 107.Sasana Pakarti 7974075/7974828
108.Sasono Langen Budoyo 8409214/8409265
109.Serba Guna BULOG 5252209 Ext. 2610
110.STEKPI 7981353-55

111.SUCOFINDO 7994668 ext.244
112.Sunda Kelapa, Mesjid 3148541/334261
113.Teater Tanah Airku, TMII 87793369
114.Telokm / Citra Caraloka 5205300/5215285
115.TIFA (KOMDAK) 5234236
116.Wanita BKOW 8652874-76
117.Wisma HC-Ragunan 78843415
Sumber : Nabung Amal Sholeh
http://nabungamalsholeh.blogspot.com/2012/10/117-gedung-pernikahan-wedding.html

Dikirim pada 09 Oktober 2012 di Akhlak



Alhamdulillah, Allah telah mempertemukan kembali kita dengan Iedul Adha atau Iedul Qurban. Kita juga bersyukur dan berdo’a agar saudara-saudara kita yang melaksanakan ibadah Haji tahun ini diberikan kekuatan dan kesehatan oleh Allah sehingga dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah hajinya dengan aman, lancar dan selamat. Semoga pula mereka dapat kembali ke tanah air dengan sehat dan selamat dan menjadi Haji yang Mabrur.
Seperti kita ketahui, dalam ibadah haji ada tiga kegiatan yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan klimaksnya melempar jumrah di Mina. Tanpa melaksanakan ketiga rangkaian kegiatan ini, ibadah haji seseorang tidak syah.

Pertama, wukuf di Arafah. Arafah adalah padang pasir yang luas. Di tempat ini jutaan manusia berkumpul dengan hanya memakai dua helai kain tak berjahit. Mereka menanggalkan baju kebesaran dunia dan melepaskan segala atribut kepangkatan. Mulai dari raja sampai rakyat biasa, semua sama. Tidak ada satupun yang memakai jas maupun pantalon, batik maupun safari.
Wukuf di Arafah dilakukan siang hari, saat matahari terik menyengat. Semua duduk bersimpuh berdzikir dan beristighfar. Di sini instink dan sifat kemanusiaan dibangkitkan. Akal/rasio dan intelektualitas kita ditempa untuk membaca diri dan alam sekitar, sehingga diharapkan muncul sifat arif. Sesuai dengan namanya, Arafah berarti pengetahuan dan sains . Karena Arafah inilah pertama kali pengetahuan diberikan kepada manusia melalui orang tua kita, Adam AS. “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya….” (Al Baqarah 31). Dengan ilmu pengetahuan inilah manusia mengolah alam ini untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri.

Kedua, Miqat di Muzdalifah. Muzdalifah atau Mas’ar, adalah tempat membina keasadaran dan subjektifitas. Miqat di Muzdalifah dilakukan pada malam hari, di saat hari kelam, tidak ada penerangan, di saat orang-orang tidur lelap. Di tempat ini, para hujjaj berdzikir dan merenung sehingga timbul kesadaran ke-Mahabesaran Allah SWT. Betapa luasnya jagat raya, langitnya berdiri kokoh tanpa ada tiang penyangga. Bintang dan planet-planet bertebaran tanpa ada tali gantungan.
Di saat miqat di tempat ini, para hujjaj beristighfar, bertaubat, meminta ampun kepada Allah sambil mengungkapkan penyesalan atas pebuatan dosanya yang telah dilakukan selama ini. Orang-orang yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan amalan ini, tak jarang airmatanya meleleh membasahi pipinya, bahkan menangis sejadi-jadinya. Dan tangis di kala sepi sambil menyesali diri itulah tangis yang akan mendekatkan kita kepada pengampunan Allah SWT, bukan tangis massal yang dishoot oleh televisi.
Di Muzdalifah ini emosipun dilatih, nurani ditempa untuk “membunuh” dan menghilangkan sifat-sifat tercela yang menyebabkan amal kita ditolak oleh Allah seperti: iri, dengki, jahil, benci, tamak, rakus, dan egoisme. Dengan kesadaran inilah para hujjaj mempersiapkan diri, menyiapkan senjata (berupa batu kerikil) untuk menyerang iblis guna membunuh sifat-sifat jelak itu.

Ketiga, Mina. Di tempat ini berdiri kokoh tiga tugu “monumental” yang disebut “Jamarat”: Jumratul Ula, Jumratul Wustha dan Jumratul Aqabah. Ketiganya melambangkan tiga Syetan yang harus diperangi.Di tempat ini, setelah selesai melaksanakan sholat Subuh di Muzdalifah, para hujjaj bergerak dengan gesit dan penuh semangat “menyerang ketiga iblis itu dengan menggunakan “senjata terhunus” berupa batu-batu kerikil.
Syaitan ini harus dilawan, karena ia selalu memperdaya manusia. Syaitan menyerang titik-titik kelemahan manusia yaitu intelektual, kesadaran dan keyakinan. Oleh karena itu gerakan penyerangan iblis di Mina melambangkan harapan dan idealisme, serta perjuangan dalam membebaskan kita dari serangan Syaitan terhadap ketiga titik kelemahan manusia itu.
Tiga serangan Syaitan ini selalu kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Ia dapat berupa kekuasaan, ia dapat berupa materi atau harta/kekayaan dan juga bisa dalam bentuk kehidupan sosial lainnya. Dalam Al Quran dicontohkan, ada Fir’aun, yaitu lambang pemimpin yang dhalim dan penindas; Qarun, lambang kepitalis yang rakus dan serakah; Hamman, lambang pejabat-pejabat yang munafik, dan Bal’am adalah lambang penegak hukum yang berpihak pada penguasa dan pengusaha, bukan pada kebenaran.
Ibadah haji merupakan sarana untuk membina intelektualitas, kesadaran dan kecintaan manusia terhadap kebenaran. Ibadah haji merupakan bentuk hubungan interaktif dan ketaatan manusia kepada Allah dan sebagai bentuk hubungan antar sesama manusia. Ibadah haji juga mengandung nilai‑nilai eduka­tif, yakni membina jiwa seseorang menjadi mantap dan konsisten dalam menegakkan kebenaran seperti halnya dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Isma’il. Nilai-nilai itu harus diwujudkan dalam perilakunya sehari-hari. Bagi para hujjaj, Rasulullah menyebutkan 2 ciri yang menonjol dari haji yang mambrur, yaitu: afsus-salam, wa ith’amuth- tha’am.

Afsus- salam, artinya menyebarkan salam (keselamatan). Artinya ia harus menjadi tempat bertanya orang yang tidak tahu, tempat meminta pendapat bagi orang yang kebingungan, dan tempat meminta nasihat orang-orang yang sedang kegelapan. Ini dapat difahami, karena karena intelektual mereka telah terbina melalui proses perenungan di Arafah, di Muzdalifah dan di Mina.
Sedangkan ith’amuth tha’am, artinya dermawan, memiliki solidaritas sosial yang tinggi, suka membantu dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Jiwanya gemetar jika ada orang lain yang susah. Ia sadar bahwa harta yang dimilikinya adalah kepunyaan Allah yang setiap saat bisa diambil kembali oleh Allah dengan berbagai cara.
Dengan demikian, ibadah Haji memiliki nilai yang sangat penting bagi kita umat Islam Indonesia yang dewasa ini sedang diuji oleh Allah dengan berbagai ujian, mulai dari ujian bersifat ekonomi, bencana alam, sampai dengan drama Cicak lawan Buaya yang semakin hari semakin membingungkan orang-orang yang bodoh, walaupun masyarakat sudah bisa menebak bahwa dari pertarungan itu yang menang adalah kadal, karena cicak dan buayapun dua-duanya berhasil dikadalin oleh Kadal yang telah dikuasai oleh nafsu angkara murka dari manusia-manusia durjana yang telah dikuasai Syaitan.
Karena itu kita mengingatkan kepada para hujjaj, mari kita lanjutkan perang kita melawan tiga syaitan yang kita lempari waktu lempar jumrah: pertama, Syaitan kecil, yaitu syaitan yang menganggu pikiran dan intelektual manusia. Serangan dari Syaitan kecil ini menyebabkan manusia malas belajar, tidak mau menggunakan akal/pikiran. Akibatnya manusia menjadi bodoh dan terbelakang. Kedua, Syaitan sedang, yaitu syaitan yang menyerang kesadaran, sehingga manusia lupa dan lalai menghadap Allah. Syaitan ini dapat berupa harta atau kekayaan, pangkat, jabatan dan kedudukan, keluarga dan lain-lain. Jika manusia sudah cinta kepada dunia, maka ajaran agama sering diabaikan, agama sering dianggap enteng, lalu kemusyrikanpun merajalela. Ketiga, Syaitan besar, yaitu hawa nafsu yang ada dalam diri manusia, seperti ria, sombong, takabbur, rakus, tamak, dengki, hasad, nifak, dan sebagainya.
Ketiga Syaitan itu harus kita perangi, karena ketiga Syaitan itulah yang menyebabkan manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya. Jika manusia telah kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya, maka hati, mata dan telinga yang dimiliki oleh manusia tidak berfungsi lagi. Itulah yang oleh Allah disebutkan sebagai manusia yang :
“……… mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu tak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai”. (Al –A’raf/7:179).

Sumber

Dikirim pada 05 Oktober 2012 di Tauhid
03 Okt


Yang dimaksud dengan sekufu adalah kesetaraan. Artinya ada kesetaraan dan kesamaan antara calon suami dengan calon istri dalam hal-hal tertentu. Misalnya sekufu dalam hal harta artinya kekayaan calon suami itu kurang lebih setara dengan kekayaan istri.
Kesetaraan yang disepakati ulama bahkan menyebabkan pernikahan tidak sah jika kesetaraan ini tidak diperhatikan adalah kesetaraan dalam agama. Setara dalam agama artinya agama calon suami dan istri itu sama. Seorang muslimah hanya setara dengan seorang muslim. Para ulama sepakat bahwa seorang wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki kafir (Tanya Jawab Masalah Nikah dari A sampai Z hal 150, terbitan Media Hidayah).
Sedangkan kesetaraan dalam masalah yang lainnya diperselisihkan oleh para ulama, apakah perlu diperhatikan ataukah tidak.
Pernikahan yang tidak dilandasi oleh kesetaraan (selain sekufu dalam agama dan menjaga kehormatan) itu tidaklah haram. Setelah Allah menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi, Allah berfirman,
وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ
“Dan dihalalkan bagi kamu perempuan selain itu (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina …” (QS An Nisa:24).
Dampak negatif pernikahan yang tidak dilandasi kesetaraan adalah timbulnya dampak bagi pihak perempuan dan walinya. Kalau seandainya pihak perempuan dan walinya ridha dengan aib yang ditanggungnya maka akad nikah sah. Demikianlah pendapat ulama yang beranggapan bahwa sekufu dalam selain masalah agama adalah masalah yang urgen. (Tanya Jawab Masalah Nikah dari A dari Z hal 167).
Dalil ulama yang berpendapat adanya sekufu dalam masalah harta adalah sebagai berikut:
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ انْكِحِى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ ».فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ « انْكِحِى أُسَامَةَ ». فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا وَاغْتَبَطْتُ بِهِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah binti Qais tentang dua orang yang telah melamarnya,
“Abu Jahm adalah orang yang suka memukul istrinya. Sedangkan Muawiyah adalah orang yang tidak berharta. Menikahlah dengan Usamah”. Sebenarnya aku tidak suka dengan Usamah namun sekali lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menikahlah dengan Usamah”. Ahirnya aku menikah dengannya. Dengan sebab tersebut Allah memberikan kebaikan yang banyak sehingga aku merasa beruntung (HR Muslim no 3770 dari Fathimah binti Qois).
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أَحْسَابَ أَهْلِ الدُّنْيَا هَذَا الْمَالُ ».
Dari Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kemulian orang yang hidup di dunia adalah dengan harta” (HR Ahmad no 23109, sanadnya kuat menurut Syeikh Syuaib Al Arnauth).
Di antara dalil yang digunakan oleh para ulama yang berpendapat bahwa sekufu dalam harta itu tidak teranggap adalah hadits dalam Shahih Bukhari. Dalam riwayat tersebut disebukan bahwa Zainab, isteri Abdullah bin Mas’ud meminta izin kepada Rasulullah untuk memberikan sedekah kepada suaminya. Kejadian ini menunjukan bahwa Zainab itu jauh lebih kaya dibandingkan Ibnu Mas’ud. (Lihat Tanya Jawab Masalah Nikah dari A Sampai Z hal 161-163).
Ringkasnya kita punya kewajiban untuk menghormati orang yang memilih pendapat adanya sekufu dalam masalah harta dalam pernikahan. Oleh karena itu, kami nasehatkan kepada orang yang mendapatkan musibah karena hal ini untuk bersabar. Sesungguhnya dunia itu tidaklah selebar daun kelor.
Meski pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan tidak adanya sekufu dalam masalah harta dalam pernikahan.
Muhammad bin Ismail Ash Shan’ani mengatakan, “Terdapat perselisihan yang banyak di antara para ulama tentang sekufu yang harus diperhatikan dalam pernikahan. Pendapat yang kuat adalah pendapat Zaid bin Ali dan Malik. Juga terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa hal ini adalah pendapat Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Sirin, Umar bin Abdul Aziz dan salah satu pendapat An Nashir.Pendapat ini mengatakan bahwa sekufu yang teranggap dalam pernikahan hanyalah agama mengingat firman Allah,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS Al Hujurat:13).
عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الناس ولد آدم وآدم من تراب
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua manusia adalah keturunan Adam dan Adam itu tercipta dari tanah” (HR Ibnu Saad dalam Thabaqat dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Silsilah Shahihah no 1009).[Subulus Salam al Mushilah ila Bulugh Maram 6/58, terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh cetakan keempat 1424H].

Sumber

Dikirim pada 03 Oktober 2012 di Akhlak
17 Jun


Sekarang 27 rojab dimana pada akhir bulan ini kita sebagai seorang muslim telah diingatkan kembali sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat islam. Sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (siirah) Rasulullah SAW yaitu peristiwa diperjalankannya beliau (isra) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi`raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah).
Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di S. Al Isra (dikenal juga dengan S. Bani Israil) ayat pertama:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير
Artinya; Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu (potongan) malam dari masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".
Lalu apa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Isra wal Mi`raj ini? Barangkali catatan ringan berikut dapat memotivasi kita untuk lebih jauh dan sungguh-sungguh menangkap pelajaran yang seharusnya kita tangkap dari perjalanan agung tersebut:
Pertama: Konteks situasi terjadinya
Kita kenal, Isra` wal Mi`raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat "sumpek", seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas.
Dalam sitausi seperti inilah, rupanya "rahmah" Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. "warahamatii wasi`at kulla syaei", demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk "berjalan-jalan" (saraa) menelusuri napak tilas "perjuangan" para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawah serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di "Sidartul Muntaha". Sungguh sebuah "penyejuk" yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah SAW untuk kembali "menenangkan" jiwa, mempermantap tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan.
Artinya, bahwa kita adalah "rasul-rasul" Rasulullah SAW dalam melanjutkan perjuangan ini. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada sebuah "perjalanan" yang menyejukkan. "Allahu Waliyyulladziina aamanu" (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman". Wali yang bertanggung jawab memenuhi segala keperluan dan kebutuhan. Kesumpekan dan kesempitan sebagai akibat dari penentangan dan rintangan mereka yang tidak senang dengan kebenaran, akan diselesaikan dengan cara da metode yang Hanya Allah yang tahu. Yang terpenting bagi seorang pejuang adalah, maju tak gentar, sekali mendayung pantang mundur, konsistensi memang harus menjadi karakter dasar bagi seorang pejuang di jalanNya. "Wa laa taeasuu min rahmatillah" (jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah).
Kedua: Pensucian Hati
Disebutkan bahwa sebelum di bawa oleh Jibril, beliau dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah SAW berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit "dendam", dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya? Tidak…sungguh mati…tidak. Beliau hamba yang "ma`shuum" (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa signifikasi dari pensucian hatinya?
Rasulullah adalah sosok "uswah", pribadi yang hadir di tengah-tengah umat sebagai, tidak saja "muballigh" (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi "percontohan" bagi semua yang mengaku pengikutnya. "Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah".
Memang betul, sebelum melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan "suci" yang seharusnya dibangun dalam suasa "kefitrahan". Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai "nurani", itulah lentera perjalanan hidup.
Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang ternyata juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan "karat" kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha). Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan, diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melengket. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian "penentu" baik atau tidaknya seseorang pemilik hati.
ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلحت سير عمله، وإذا فسدت فسدت سير عمله.
Disebutkan bahwa hati manusia awalnya putih bersih. Ia ibarat kertas putih dengan tiada noda sedikitpun. Namun karena manusia, setiap kali melakukan dosa-dosa setiap kali pula terjatuh noda hitam pada hati, yang pada akhirnya menjadikannya hitam pekat. Kalaulah saja, manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak sadar dan bahkan menambah dosa dan noda, maka akhirnya Allah akan akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka. "Khatamallahu `alaa quluubihim".
Di Al Qur`an sendiri, Allah berfirman" قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: Sungguh beruntung siapa yang mensucikannya, dan sungguh buntunglah siapa yang mengotorinya". Maka sungguh perjalanan ini hanya akan bisa menuju "ilahi" dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah sebelum perjalanan sucinya tersebut.
Ketiga: Memilih Susu - Menolak Khamar
Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh menfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-nginjak akal, menurunkan tingkat inteletualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri "suci".
Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah memang melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, hanya memang ada dua alternatif di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan kerugian. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk menerima selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan "ketidak senangan" terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya.
Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan kepada pilihan-pilihan yang samar. Fitra menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, ternyata kita seringkali terperangkap kepada pilihan-pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah itu disebabkan oleh tumpulnya firtah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan.
Keempat: Imam Shalat Berjama`ah
Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepadaYang Maha Pencipta. Pada shalatlah terkumpul berbagai hikmah dan makna. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal yang seorang Muslim senantiasa menjadi tujuan hidupnya.
Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama`ah, dan tidak tanggung-tanggung ma`mumnya adalah para anbiyaa (nabi-nabi), maka sungguh itu adalah suatu pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musa yang menjadi pemimpin sebuah umat besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, Eyangnya banyak nabi dan Rasul, menerima menjadi Ma`mum Rasulullah SAW. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar bahwa Rasulullah memang memiliki kelebihan-kelebihan "leadership", walau secara senioritas beliaulah seharusnya menjadi Imam.
Kempimpinan dalam shalat berjama`ah sesungguhnya juga simbol kepemimpinan dalam segala skala kehidupan manusia. Allah menggambarkan sekaligus mengaitkan antara kepemimpinan shalat dan kebajikan secara menyeluruh: "Wahai orang-orang yang beriman, ruku`lah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu serta berbuat baiklah secara bersama-sama. Nisacaya dengan itu, kamu akan meraih keberuntungan". Dalam situasi seperti inilah, seorang Muhammad telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh pemimpin umat lainnya.
Baghaimana dengan kita sebagai pengikut nabi muhammad dalam masalah ini? Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki kriteria tersebut. Kriteria "imaamah" atau kepemimpinan yang disebutkan dalam Al Qur`an masih menjadi "tanda tanya" besar pada kalangan umat ini. "Dan demikian kami jadikan di antara mereka pemimpin yang mengetahui urusan Kami, memiliki kesabaran dan ketangguhan jiwa, dan adalah mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami".
Kita umat Islam, yang seharusnya menjadi pemimpin umat lainnya, ternyata memang menjadi salah satu pemimpin. Sayang kepemimpinan dunia Islam saat ini terbalik, bukan dalam shalat berjama`ah, bukan dalam kebaikan dan kemajuan dalam kehidupan manusia. Namun lebih banyak yang bersifat negatif.
Kelima: Kembali ke Bumi dengan Shalat
Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam kekiniannya. Rasulullah sungguh sadar bahwa betapapun ni`matnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa ni`mat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan keni`matan yang dirasakan malam itu, harus ditinggalkan untuk kembali ke dunia beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya.
Inilah sikap seorang Muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini dengan membawa bekal shalat yang kokoh. Shalat berintikan "dzikir", dan karenanya dengan bekal dzikir inilah kita melanjutkan ayunan langkah kaki menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada ridhaNya. "Wadzkurullaha katsiira" (dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak), pesan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari "fadhalNya" dipermukaan bumi ini. Persis seperti Rasulullah SAW membawa bekal shalat 5 waktu berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi`raj). sumber

Dikirim pada 17 Juni 2012 di Akhlak


Bagaimana mungkin hati akan cemerlang, bila gemerlap duniawi terpatri di dinding hati. Demikian ujar Syech ibnu athahilah Ra dalam kitab hikamnya.

Tidak sulit untuk mengetahui apakah dinding hati kita dipenuhi gemerlap dunia atau persiapan untuk akhirat. Lihatlah dibidang apa saja hati ini menjadi resah, bila hati resah karena kehilangan harta, takut tidak kebagian rezeki, berani tidak jujur demi sepeser-dua peser uang, melanggar aturan agama demi dunia.

Itu berarti dinding hati kita tidak sekedar dipenuhi gemerlap duniawi, tetapi sudah menjadi tawanan dunia. Tetapi bila keresahan kita pada shalat yang belum khusuk, bekal akhirat yang masih belum banyak, akhlak yang masih buruk, Itu pertanda hati kita berisi persiapan akhirat.

Memang mustahil untuk tidak terlibat urusan-urusan duniawi, karena kita mencari penghidupan jasmani disini. Dan mempersiapan bekal akhirat disini pula. Namun disaat yang sama, bagi roh kita, gemerlap dunia materi ini racun yang mematikan.

Disinilah kita harus belajar dari lalat. Lalat mencari penghidupan di tempat yang paling menjijikan. Sampah yang sudah membusuk, daging yang sudah menjadi bangkai, nasi yang sudah basi.

Tetapi kita tidak mendengar sekalipun ada lalat yang terserang tipus atau disentri. Mengapa? Menurut ilmuwan, lalat memiliki kebiasaan yang unik. Yaitu; membersihkan diri. Setiap hinggap disuatu tempat, lalat senantiasa membersihkan tangan dan kakinya.

Setelah tangan dan kakinya benar-benar bersih, lalu ia membersihkan kepala dan sayapnya. Untuk makan lalat tidak langsung melahap makanan itu, tetapi ia menuangkan cairan khusus pada makanan dengan belalainya. Mengubah kekentalan makanan agar cocok dengan keadaan tubuhnya.

Setelah itu, barulah dengan pompa penyerap ia masukan makanan itu kerongkongannya, subhanallah luar biasa inilah seni kehidupan spiritual.

Kita harus mampu memagari diri dari racun-racun dunia dengan memasang system kekebalan spiritual. Agama telah memberikan formula anti virus ini. Formulanya adalah makan-makanan yang halal.

Menjadikan kerja sebagai ibadah, hidupkan hati dengan dzikrullah, hentikan aktifitas demi menegakkan shalat, peduli terhadap kesusahan orang lain dengan cara membayar zakat.

Bersyukur ketika mendapatkan, bersabar ketika kehilangan, tawakal dalam ketidakpastian, dan ketahuhiidan yang kokoh yaitu segala sesuatu ada dalam genggaman Allah SWT.

Ada satu kalimat ringkas yang mencakup hal ini, yaitu; tubuh bergaul dengan makhluk, hati bergaul dengan khalik, memang tidak gampang, wassalamu’alaikum Wr. Wb.

sumber: http://nabungamalsholeh.blogspot.com/2012/03/tubuh-bergaul-dengan-makhluk-hati.html

Dikirim pada 09 Maret 2012 di Tauhid


Dalam hadist Arba`in Rasulullah bersabda: "... Ketahuilah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging, bila ia baik maka baiklah seluruh jasad itu, dan bila ia rusak maka rusaklah pula seluruh jasad. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hati bisa menjadi keras karena bermaksiat; bukan hanya karena melakukan dosa besar, namun meremehkan dosa kecil dan mengulang-ulangnya pun dapat mengeraskan hati. Selain itu, hati juga bisa menjadi keras dengan banyak berangan-angan, dan berkumpul dengan orang yang berhati keras akan semakin merusak hati. Kita juga perlu waspada karena banyaknya tertawa juga mengeraskan hati.

Akibat buruk dari hati yang keras antara lain merasa hampa makna dari hal-hal yang kita lakukan. Kenikmatan ibadah dan khusyu` tidak akan bisa dirasakan oleh hati yang keras. Bila Anda pelajar atau penuntut ilmu dan merasa kesulitan untuk faham akan ilmu yang diajarkan, boleh jadi dan sangat mungkin hal tersebut dikarenakan kerasnya hati. Mau tidak mau wajah kita sebagai refleksi hati pun turut serta mempresentasikan hati yang keras dengan raut yang tak kalah kerasnya. Tentu saja orang-orang dan teman kita yang merasakan kerasnya hati kita akan menjauh, baik cepat atau lambat.

Bila di waktu ini, detik ini kita merasa keras hati, lembutkanlah lagi hati dengan:
1.Berdoa kepada Allah memohon dilembutkan hati
Dia-lah yang berkuasa membolak-balikkan hati, mudah bagi Allah membalikkan hati yang keras menjadi lembut. Seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk melembutkan hati, tidak akan berhasil bila Allah tidak menghendakinya.

2.Membaca Al Quran dan mentadaburinya
Al Quran adalah bacaan terbaik, mulia, penuh hikmah, dan terjaga kemuliaanya hingga hari kiamat. "Sesungguhnya Al Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh). Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam"(QS Al Waqiah:77-80). Al Quran berisi kisah-kisah orang terdahulu yang dapat diambil pelajaran di dalamnya. Allah juga menceritakan tentang janji surga dan ancaman tentang neraka di dalam Al Quran. Dengan demikian kita diingatkan kembali hakikat kehidupan ini, tentang masa lalu untuk diambil hikmahnya, tentang masa sekarang dan masa depan di akherat yang menjadikan kita akan merasa yakin dengan janji dan pertolongan Allah pada orang-orang yang bertakwa.

3.Membaca Sirrah Nabawiyah
Sirrah Nabawiyah berkisah tentang kehidupan Rasulullah dari lahir hingga wafat. Di dalamnya kita akan mendapati cerita masa kecil Rasulullah sebagai anak yatim yang mandiri, masa remaja sebagai pemuda yang dipercaya, dan masa kerasulan yang penuh perjuangan, dan ketegaran. Dengan membacanya kita akan mengetahui betapa Rasulullah sangat mencintai kita sebagai umatnya, bagaimanakah dengan kita? Dengan membaca Sirrah Nabawiyah kita dapat mempelajari contoh terbaik kelembutan hati dari Rasulullah yang selalu dibimbing Allah.

4.Memperbanyak dzikir
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram"(QS. Ar Ra`d:28). Janji Allah bagi orang-orang yang berzikir mengingat Nya adalah menentramkan hati. "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau dududk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) `Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka"

5.Mengasihi anak yatim
"Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi shollallohu `alaihi wa sallam mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabipun bertanya : sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi ? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi."[HR Thobroni, Targhib, Al Albaniy : 254]. Seseorang yang mengasihi anak yatim berarti dia memposisikan hati dan dirinya sebagai ayah atau ibu atau saudara bagi mereka. Maka secara naluriah akan terhimpun rasa kasih sayang dan kelembutan hati di dalamnya. Dengan demikian tidak mengherankan bahwa salah satu hikmah menyantuni dan mengasihi anak yatim adalah memlembutkan hati. Dalam hadistnya Rasulullah bersabda "Kasihilah yang ada di bumi maka yg dilangit akan mengasihimu"

6.Saling menasihati dalam kebaikan
Berkumpulah bersama orang-orang sholeh, dan pilihlah orang-orang sholeh sebagai sahabat terbaik kita. Sahabat yang sholeh akan saling menasihati dan mengingatkan dalam kebaikan. Nasehat adalah cinta, begitu dituturkan oleh sahabatku yang sholeh dan baik hati. Bila kita berkumpul dengan orang yang hatinya lembut dan dekat dengan Allah niscaya kita bisa merasakan cinta mereka dalam bentuk nasehat kebaikan yang terus mengingatkan di saat kita lupa, menguatkan di saat lemah untuk kembali kuat berikatan istiqomah di jalan-Nya.

7.Banyak mengingat dosa dan kematian
Dalam upaya melembutkan hati, perbanyaklah mengingat dosa dan kematian. Dengan mengingat akan datangnya kematian, kita akan menyadari bagaimana kesiapan kita menghadapi saat itu. Menyadari kembali dosa kita satu tahun yang lalu, kemudian satu bulan yang lalu, satu minggu yang lalu, satu hari yang lalu, satu jam yang lalu, bagaimana bila dibandingkan kualitas amal kita detik ini. Sadar akan banyaknya dosa dan belum siapnya kita menghadapi kematian mengingatkan kita; sampai kapan kita akan mempertahankan kerasnya hati, apa yang bisa dibanggakan dengan kerasnya hati, mengingatkan akan hilangnya nikmat bermunajat kepada Allah.

8. Takut akan datangnya maut secara tiba-tiba sebelum kita sempat bertaubat.

9. Takut tidak menunaikan hak-hak Allah secara sempurna. Sesungguhnya hak-hak Allah itu pasti diminta pertanggungjawabannya.

10. Takut tergelincir dari jalan yang lurus, dan berjalan di atas jalan kemaksiatan dan jalan syaithan.

11. Takut memandang remeh atas banyaknya nikmat Allah pada diri kita.

12. Takut akan balasan siksa yang segera di dunia, karena maksiat yang kita lakukan.

13. Takut mengakhiri hidup dengan su’ul khatimah.

14. Takut menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.

15. Takut menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur.

16. Takut menghadapi pertanyaan hari kiamat atas dosa besar dan dosa kecil yang kita lakukan.

17. Takut melalui titian yang tajam. Sesungguhnya titian itu lebih halus daripada rambut
dan lebih tajam dari pedang.

18. Takut dijauhkan dari memandang wajah Allah.

19. Perlu mengetahui tentang dosa dan aib kita.

20. Takut terhadap nikmat Allah yang kita rasakan siang dan malam sedang kita tidak bersyukur.

21. Takut tidak diterima amalan-amalan dan ucapan-ucapan kita.

22. Takut bahwa Allah tidak akan menolong dan membiarkan kita sendiri.

23. Kekhawatiran kita menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan pada
hari timbangan ditegakkan.

24. Hendaknya kita mengembalikan urusan diri kita, anak-anak, keluarga, suami dan harta
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jangan kita bersandar dalam memperbaiki
urusan ini kecuali pada Allah.

25. Sembunyikanlah amal-amal kita dari riya’ ke dalam hati, karena terkadang riya’ itu
memasuki hati kita, sedang kita tidak merasakannya. Hasan Al Basri rahimahullah
pernah berkata kepada dirinya sendiri. “Berbicaralah engkau wahai diri. Dengan
ucapan orang sholeh, yang qanaah lagi ahli ibadah. Dan engkau melaksanakan amal
orang fasik dan riya’. Demi Allah, ini bukan sifat orang mukhlis”.

26. Jika kita ingin sampai pada derajat ikhlas maka hendaknya akhlak kita seperti akhlak
seorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya atau membencinya.

27. Hendaknya kita memiliki sifat cemburu ketika larangan-larangan Allah diremehkan.

28. Ketahuilah bahwa amal sholeh dengan keistiqomahan jauh lebih disukai Allah
daripada amal sholeh yang banyak tetapi tidak istiqomah dengan tetap melakukan dosa.

29. Ingatlah setiap kita sakit, bahwa kita telah istirahat dari dunia dan akan menuju akhirat
dan akan menemui Allah dengan amalan yang buruk.

30. Hendaknya ketakutan pada Allah menjadi jalan kita menuju Allah selama kita sehat.

31. Setiap kita mendengar kematian seseorang maka perbanyaklah mengambil pelajaran
dan nasihat. Dan jika kita menyaksikan jenazah maka khayalkanlah bahwa kita yang
sedang diusung.

32. Hati-hatilah menjadi orang yang mengatakan bahwa Allah menjamin rezeki kita
sedang hatinya tidak tenteram kecuali sesuatu yang ia kumpul-kumpulkan. Dan
menyatakan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang kita tetap
mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikit pun, dan
mengatakan bahwa kita pasti mati padahal dia tidak pernah ingat mati.

33. Lihatlah dunia dengan pandangan I’tibar (pelajaran) bukan dengan pandangan
mahabbah (kecintaan) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.

34. Ingatlah bahwa kita sangat tidak kuat menghadapi cobaan dunia. Lantas apakah kita
sanggup menghadapi panasnya jahannam?

35. Di antara akhlak wanita mu’minah adalah menasihati sesama mu’minah.

36. Jika kita melihat orang yang lebih besar dari kita, maka muliakanlah dia dan katakan kepadanya, “Anda telah mendahului saya di dalam Islam dan amal sholeh maka diajauh lebih baik di sisi Allah. Anda keluar ke dunia setelah saya, maka dia lebih baiksedikit dosanya dari saya dan dia lebih baik dari saya di sisi Allah.”

37. Takut akan adzab dan prahara di alam kubur.

Hadis riwayat Aisyah ra. istri Nabi saw.:
Rasulullah saw. bersabda: Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya

Begitulah, menjaga kondisi hati untuk senantiasa istiqomah berada di jalan Allah, senantiasa bersih dari segala kotoran dan lembut dari segala kekerasan (hati), tidaklah mudah. Kesibukan dan rutinitas kita yang menguras tenaga dan pikiran, serta interaksi yang terus menerus dengan masalah duniawi, jika tidak diimbangi dengan “makanan-makanan” hati, terkadang membuat hati menjadi keras, kering, lalu mati… Padahal sebagai seorang mukmin, dalam melihat berbagai macam persoalan kehidupan, haruslah dengan mata hati yang jernih.

"Ya Allah, Sang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini pada ketaatan agamaMu", Amin
http://nabungamalsholeh.blogspot.com/2011/03/37-cara-melembutkan-hati.html

Dikirim pada 16 Januari 2012 di Akhlak
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Saya unik sama seperti Anda More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 357.254 kali


connect with ABATASA